Bandar Lampung (Lampost.co) – Ratusan pemuda Katolik di Lampung mengikuti diklat dasar tanggap bencana, aksi kemanusiaan, dan bela negara di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Lampung, selama 16–18 Januari 2026. Pelatihan itu menghadirkan materi komprehensif bagi generasi muda yang ingin siap turun tangan saat bencana melanda.
Diklat itu guna memperkuat kesiapsiagaan peserta dalam merespons risiko gempa, tsunami, dan banjir di Lampung. Terlebih, provinsi tersebut punya potensi dampak besar bila patahan Megathrust aktif.
Peserta pelatihan mendapatkan wawasan mendalam tentang mitigasi risiko bencana, teknik respons cepat dan bela negara. Materi juga mencakup aksi kemanusiaan untuk mendukung warga terdampak saat bencana terjadi.
Ketua Pemuda Katolik Komda Lampung, Valentinus Andi, menyatakan pelatihan itu penting agar kader punya keterampilan dan mental siap aksi. Perannya bukan sekadar teori, tetapi keterampilan nyata di lapangan.
Pemilihan SPN Polda Lampung sebagai lokasi kegiatan mencerminkan kerja sama strategis organisasi dengan kepolisian. Peserta diklat dilatih disiplin sejak awal kegiatan, termasuk baris-berbaris, manajemen waktu, dan sikap saat situasi darurat.
“Latihan semacam itu membantu peserta cepat tanggap dalam penanganan musibah. Untuk itu, disiplin sebagai modal penting demi keselamatan masyarakat,” kata Valentinus.
Pasukan Komando Tanggap Bencana
Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Stafanus Gusma, menegaskan Pemuda Katolik tidak mengejar kekuatan massa secara kuantitas.
“Organisasi itu memilih fokus pada kualitas kader dan kekuatan nilai kebangsaan,” kata Staanus.
Menurutnya, tantangan saat ini bukan lagi konflik fisik semata. Ancaman hadir melalui disinformasi, polarisasi sosial, dan konflik identitas di ruang digital.
Pemuda Katolik ingin membekali kader dengan kemampuan analisis sosial dan kebijakan publik. Langkah itu bertujuan mencetak kader yang mampu berpikir kritis dan bertindak tepat.
Respons Cepat Bencana Jadi Perhatian Serius
Dia menyoroti tingginya potensi bencana alam di Indonesia. Kejadian di Aceh dan Sumatera Barat sebagai alarm bersama.
Pemuda Katolik bergerak cepat melakukan konsolidasi organisasi saat bencana terjadi.
Koordinasi nasional perlu agar bantuan dapat langsung menyentuh masyarakat terdampak.
Kehadiran pemuda harus nyata di tengah krisis kemanusiaan. Aksi kemanusiaan menjadi wujud iman yang bekerja melalui solidaritas.
Dialog Lintas Iman Jadi Fondasi Gerakan
Dia menekankan pentingnya dialog lintas iman dalam setiap gerakan Pemuda Katolik.
Sebab, keberagaman Indonesia merupakan kekuatan, bukan sumber perpecahan.
Untuk itu, pemuda Katolik harus aktif membangun perjumpaan lintas agama di tingkat nasional dan daerah. Dialog tersebut bertujuan menciptakan komunikasi yang jujur dan saling memahami.
“Bangsa kuat lahir dari perjumpaan, bukan dari kecurigaan. Pemuda harus menjadi jembatan, bukan bahan bakar konflik,” kata dia.
Kepemimpinan Berbasis Pelayanan dan Solidaritas Sosial
Uskup Tanjungkarang, Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo, kegiatan tersebut melatih pemuda menjadi pemimpin yang berpihak dan melayani masyarakat luas. Ia mengajak generasi muda memahami kemanusiaan menyatukan semua latar belakang dalam aksi nyata.
Menurutnya, pemuda yang aktif dalam pelayanan kemanusiaan dapat mencegah perpecahan sosial dan memperkuat solidaritas lintas komunitas.
Peran Pemuda dalam Ketahanan Masyarakat
Pelatihan itu tidak hanya membangun keterampilan teknis tanggap bencana, tetapi juga memupuk rasa kebersamaan dan tanggung jawab sosial. Peserta dibekali nilai-nilai kepedulian terhadap sesama tanpa membedakan latar belakang.
Pemuda Katolik Lampung mampu turun langsung ke masyarakat saat terjadi bencana, membantu proses evakuasi, distribusi bantuan, dan pendampingan sosial yang berkelanjutan.
Kegiatan itu turut memperkuat jaringan relawan lokal yang siap berkolaborasi dengan lembaga kemanusiaan, pemerintah daerah, dan organisasi lintas iman. Sinergi semacam itu menjadi modal besar meningkatkan respon cepat terhadap ancaman bencana di Lampung dan sekitarnya.
“Pemuda Katolik di Lampung kini sebagai bagian penting tulang punggung kesiapsiagaan komunitas menghadapi bencana,” kata dia.








