TAMAN Nasional Way Kambas (TNWK) di Lampung Timur selama ini dikenal bukan hanya sebagai surga konservasi satwa endemik. Tetapi juga sebagai salah satu kawasan dengan potensi besar nilai ekonomi karbon. Keberadaan satwa kunci seperti Badak Sumatra dan Gajah Sumatra sangat penting. Selain itu, peran taman nasional dalam menyimpan karbon menjadikan TNWK memiliki nilai strategis dalam skema Nilai Ekonomi Karbon (NEK) Indonesia. Namun realitas di lapangan menunjukkan dinamika kompleks ketika konservasi, keselamatan satwa, dan ekonomi karbon berjalan bersamaan.
Baru-baru ini, Balai TNWK mengeluarkan keputusan untuk menutup sementara wisata alam, efektif mulai Jumat (16/1/2026), menyusul meningkatnya konflik antara gajah liar dan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan taman nasional.
Penutupan ini berdasarkan Surat Edaran Nomor SE.105/T.11/TU/HMS.01.08/B/01/2026 dan merupakan respons atas keterbatasan sumber daya manusia dalam menangani konflik satwa liar, sekaligus untuk mengutamakan keselamatan manusia dan satwa. Penutupan ini berlaku sampai waktu yang belum ditentukan dan hanya berlaku untuk layanan wisata; kegiatan pendidikan, penelitian, dan magang tetap dilayani.
Satwa Endemik: Lebih dari Sekadar Simbol

Keberadaan Badak dan Gajah Sumatra di TNWK memberi dimensi baru terhadap nilai karbon kawasan ini. Di pasar karbon internasional, proyek yang juga mempromosikan konservasi keanekaragaman hayati (biodiversity co-benefits) cenderung mendapatkan premium value dan perhatian khusus pembeli kredit karbon global.
Namun, untuk merealisasikan potensi tersebut, TNWK perlu melewati proses pengukuran, verifikasi, dan standar internasional yang ketat. Selain itu, isu sosial seperti konflik satwa–manusia harus dikelola dengan baik. Jika tidak, konflik tersebut bisa menjadi hambatan kredibilitas proyek karbon.
Ketika credit karbon dikaitkan dengan konservasi badak atau gajah, proyek harus menunjukkan dampak ekologis dan sosial yang nyata dan terukur, tidak sekadar narasi pemasaran.
Penutupan Wisata dan Implikasinya

Penutupan sementara wisata alam karena konflik gajah liar menunjukkan tantangan nyata dalam pengelolaan kawasan konservasi yang juga menargetkan nilai ekonomi dari sektor lain, seperti pariwisata dan karbon. Kebijakan ini bukan sekadar respons ad hoc, tetapi mencerminkan kebutuhan untuk menyeimbangkan antara perlindungan satwa, keamanan masyarakat, dan keberlanjutan fungsi kawasan.
Terkait potensi karbon, penutupan wisata bisa berdampak positif jangka pendek karena mengurangi gangguan terhadap satwa dan ekosistem yang menjadi dasar nilai karbon. Namun, di sisi lain, hilangnya aktivitas wisata sementara dapat menekan pemasukan masyarakat lokal yang bergantung pada kunjungan wisata. Selain itu, momentum mereka dalam mendukung komunitas sekitar kawasan juga menurun.
Mengintegrasikan Konservasi dan Nilai Ekonomi Karbon
TNWK tidak hanya menyimpan karbon dalam vegetasi dan tanahnya, tetapi juga memiliki nilai ekosistem holistik yang mencakup satwa besar dan interaksi sosial di kawasan sekitar. Untuk itu, strategi pengembangan pasar karbon di kawasan ini tidak boleh hanya berfokus pada angka CO₂. Justru, potensi ekonomi karbon TNWK akan lebih kuat jika diposisikan sebagai proyek karbon berbasis alam. Proyek itu juga diharapkan mendukung konservasi badak, gajah, dan ekosistem unik lainnya.
Hal ini sejalan dengan arah kebijakan nasional yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang pengelolaan nilai ekonomi karbon. Kebijakan tersebut membuka ruang bagi proyek berbasis alam untuk memperoleh kredit karbon dengan mempertimbangkan aspek keberlanjutan dan keterlibatan masyarakat.
Masa Depan TNWK: Tantangan dan Peluang
Ke depan, pengembangan TNWK sebagai bagian dari pasar karbon Indonesia harus memperhatikan beberapa kebutuhan krusial:
-
Penguatan sistem monitoring dan verifikasi yang terintegrasi dengan mekanisme pasar global.
-
Peningkatan kapasitas pengelola dan komunitas lokal dalam mitigasi konflik dan pengelolaan satwa.
-
Penataan ulang model wisata yang mendukung konservasi dan tidak mengorbankan stabilitas ekosistem.
-
Sinergi program karbon dengan budaya lokal dan ekonomi masyarakat di kawasan penyangga.
TNWK berpotensi menjadi model proyek karbon berbasis konservasi yang memberi manfaat ganda: menjaga satwa langka sekaligus menciptakan nilai ekonomi berkelanjutan. Agar potensi ini terwujud, kebijakan, tata kelola, dan keterlibatan semua pihak harus berjalan beriringan. Bila tidak, TNWK hanya tetap menjadi ikon konservasi. Lebih jauh lagi, ia tidak mampu memaksimalkan kontribusi ekonominya dalam pasar karbon yang semakin kompetitif secara global.








