Jakarta (lampost.co)–Ancaman kekerasan seksual terhadap anak sering bersembunyi di balik kedok perhatian yang terlihat tulus dan wajar. Alih-alih menggunakan paksaan fisik sejak awal, predator cenderung membangun ikatan emosional bertahap hingga korban merasa nyaman dan percaya penuh. Fenomena manipulatif child grooming merupakan ancaman serius yang sering kali gagal terdeteksi orang tua maupun masyarakat sekitar.
Proses pendekatan ini berjalan sangat halus sehingga lingkungan sering kali terkecoh oleh perilaku sopan pelaku. Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai taktik predator menjadi benteng utama menjaga keselamatan anak, baik interaksi langsung maupun di dunia digital.
Psikolog klinis jebolan Universitas Indonesia, Kasandra A. Putranto, menekankan pentingnya masyarakat mengenali karakteristik para pelaku ini. Menurutnya, tujuan utama dari grooming adalah mendapatkan akses tanpa batas terhadap anak dengan cara menghancurkan batasan personal mereka melalui kedekatan emosional yang semu.
“Para pelaku biasanya membangun hubungan emosional yang kuat untuk meraih kepercayaan korban. Praktik ini bisa terjadi di mana saja, mulai dari lingkungan rumah, institusi pendidikan, hingga platform media sosial di dunia maya,” jelas Kasandra saat memberikan edukasi mengenai pencegahan pelecehan.
Kepribadian Manipulatif
Selain itu, Kasandra memaparkan bahwa pelaku child grooming umumnya memiliki kepribadian yang sangat manipulatif. Mereka memiliki keahlian khusus dalam memainkan emosi sehingga mampu terlihat sebagai sosok yang sangat baik dan pengertian. Bahkan, pelaku tidak jarang berhasil mendapatkan kepercayaan dari orang tua korban atau orang dewasa lain di lingkungan tersebut dengan menunjukkan citra diri yang positif.
Lebih lanjut, pelaku sering kali menonjolkan sikap empati dan memberikan perhatian yang sangat intens kepada anak. Hal ini dilakukan demi menciptakan kesan bahwa hanya merekalah yang paling memahami kebutuhan atau rahasia sang anak. Karena memiliki kemampuan sosial yang mumpuni, para predator ini biasanya mudah disukai oleh komunitasnya, sehingga tindakan mencurigakan mereka sering kali tertutup oleh reputasi sosial yang tampak bersih.
Oleh sebab itu, kesadaran kolektif untuk memantau interaksi anak dengan orang dewasa sangat diperlukan. Dengan mengenali pola-pola manipulasi sejak dini, kita dapat memutus rantai eksploitasi dan memastikan anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang benar-benar aman dari ancaman predator. (MI)








