Jakarta (lampost.co)–Kehangatan komunikasi di dalam keluarga kini menjadi instrumen paling krusial dalam memutus rantai manipulasi psikologis terhadap anak. Psikiater dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP PDSKJI), Lahargo Kembaren, menegaskan bahwa orang tua memegang kendali penuh untuk membentengi buah hati mereka dari ancaman child grooming.
Modus kejahatan ini sering kali berawal dari kedekatan semu yang sengaja dibangun oleh pelaku untuk menciptakan ketergantungan. Melalui proses yang sangat rapi, predator berupaya memanipulasi kepercayaan anak hingga mereka berhasil melakukan eksploitasi, baik secara emosional, psikologis, maupun seksual.
Menurut Lahargo, langkah pencegahan yang paling efektif bukanlah sekadar pengawasan fisik yang ketat, melainkan penciptaan ruang aman bagi anak untuk bersuara. Ia berpendapat bahwa anak-anak yang merasa didengar dan tidak dihakimi di rumah cenderung memiliki pertahanan diri yang lebih kuat terhadap pengaruh orang asing.
“Pola asuh atau parenting adalah faktor protektif yang utama. Orang tua harus mampu membangun atmosfer yang membuat anak berani bercerita secara jujur. Tanpa rasa takut kena marah,” ujar Lahargo, Minggu, 18 Januari 2026.
Selain menciptakan ruang bercerita, Lahargo menambahkan bahwa orang tua perlu membekali anak dengan “bahasa emosi” sedini mungkin. Anak-anak harus diajarkan untuk memahami perbedaan antara perasaan nyaman dan tidak nyaman. Selain itu, mereka perlu memahami batasan antara rahasia yang bersifat kejutan manis dengan rahasia berbahaya yang justru mengancam keselamatan mereka.
Batasan Tubuh
Selanjutnya, normalisasi pembicaraan mengenai batasan tubuh dalam kehidupan sehari-hari menjadi hal yang sangat mendesak. Anak-anak wajib memahami bahwa tubuh mereka adalah otoritas pribadi mereka sendiri. Sehingga mereka berhak untuk menolak sentuhan atau permintaan dari siapa pun yang membuat tidak nyaman. Dengan demikian, menghormati hak otonomi anak bukan berarti memanjakan mereka, melainkan memberikan rasa aman yang fundamental.
Dalam implementasi, Lahargo menyarankan agar orang tua tetap memantau lingkaran pertemanan dan aktivitas digital anak tanpa bersifat otoriter. Kehadiran orang tua secara konsisten dalam setiap fase pertumbuhan anak jauh lebih efektif daripada kontrol berlebihan yang justru memicu anak menjadi tertutup.
“Kuncinya ada pada kedekatan yang berkualitas. Jika orang tua hadir sebagai tempat bersandar yang pertama, maka manipulasi dari pihak luar akan sangat sulit untuk menembus pertahanan anak,” pungkasnya. (MI)








