Jakarta (Lampost.co) – Potongan video perbincangan antara Jessica Mila dan Ernest Prakasa kini tengah menjadi perbincangan hangat netizen. Dalam momen tersebut, Jessica secara jujur mengakui rasa malunya terhadap sinetron Ganteng-Ganteng Serigala (GGS).
Poin Penting
- Jessica mengungkap proses syuting GGS sangat padat karena harus mengejar jam tayang harian.
- Rumah produksi sering melakukan pengeditan video secara kilat langsung di lokasi syuting.
- Sang aktris merasa malu melihat hasil efek visual serigala yang justru terlihat tidak seram.
- Jessica Mila merasa aneh saat harus berimajinasi menjalin asmara dengan sosok vampir dan serigala.
Sinetron yang rilis pada tahun 2014 tersebut memang sempat melambungkan nama Jessica ke puncak popularitas. Namun, jadwal syuting yang sangat padat ternyata menyimpan banyak tantangan berat bagi para pemerannya.
Ernest Prakasa kemudian mengajak istri Yakup Hasibuan ini untuk mengenang kembali masa-masa produksi yang melelahkan itu. “Separah apa sih emang? Gua belum pernah ngalamin yang namanya sinetron,” ujar Ernest Prakasa dengan penuh rasa penasaran.
Jessica pun segera menjelaskan kondisi lapangan saat rating sinetron tersebut melonjak sangat tinggi. “Susahnya kalau pas GGS tuh kayak misalnya tiba-tiba ratingnya bagus, tiba-tiba satu hari harus tayang dua episode gitu, dibikin dua jam,” kata Jessica Mila.
Sistem Produksi Kilat dan Pengiriman Materi
Lebih lanjut, Jessica menceritakan alur produksi yang sangat kilat demi memuaskan stasiun televisi harian. Tak jarang, tim kreatif harus melakukan proses penyuntingan video tepat di lokasi pengambilan gambar.
Pihak rumah produksi kemudian mengirimkan materi video per adegan agar jadwal penayangan tidak terhambat. “Editingnya aja bahkan langsung di lokasi kadang. Jadi kirimnya per scene gitu. Jadi diedit di lokasi, habis itu dikirim langsung ke station satu scene, dua scene,” ujar Jessica.
Kendala muncul ketika proses penambahan efek visual atau CGI membutuhkan waktu yang lebih lama. “Karena GGS kan ada CGI-nya kan, jadi mau enggak mau harus diedit. Makanya kadang-kadang suka enggak nyampe tuh materinya. Jadi sudah harusnya udah tayang, tapi materinya belum sampai,” lanjutnya.
Rasa Malu Terhadap Kualitas Efek Visual
Mendengar fakta tersebut, Ernest kemudian menanyakan perasaan emosional Jessica terhadap keterlibatannya dalam proyek besar itu. “Lu malu nggak pernah terlibat di GGS? Kalau ngelihat diri lu sendiri nih di YouTube, ngelihat lu di GGS gitu malu nggak?” tanya Ernest.
Jessica Mila pun langsung membenarkan perasaan canggung tersebut saat melihat dirinya di masa lalu. “Iya (malu). Karena aku kayak ngerasa ini apaan sih gua?” kata Jessica Mila sambil tertawa.
Ia kemudian menyoroti kualitas animasi yang terkesan sangat dipaksakan akibat waktu pengerjaan yang terlalu sempit. “Beberapa kadang animasinya ada yang, karena pengerjaan CGI-nya cepat ya, jadi mau enggak mau yang jadi serigala jadi kayak anjing. Kayak, ‘Kok serigalanya gemas’. Jatuhnya nggak serem,” kenang Jessica Mila.
Selain itu, ia merasa aneh saat harus berakting dengan makhluk supranatural dalam imajinasinya. “Terus kan kita aktingnya harus yang mengimajinasikan pacaran sama vampir lah, pacaran sama serigala gitu. Pas ngelihat itu kayak ‘Apa sih’,” ujarnya. Meskipun merasa malu, sinetron ini tetap menjadi bagian sejarah penting dalam perjalanan karier sang bintang.








