7 Agenda Strategis OJK Tahun 2026
Menjawab tantangan tersebut, OJK telah menyusun tujuh agenda kunci yang akan menjadi prioritas dalam 100 hari kerja pertama kepemimpinan Friderica Widyasari Dewi:
- Pemulihan Kepercayaan Pasar Modal: Melalui pengetatan pengawasan terhadap emiten dan transparansi pelaporan keuangan untuk menstabilkan IHSG.
- Percepatan Literasi dan Inklusi Keuangan: Menargetkan indeks inklusi keuangan mencapai 95 persen di akhir 2026 dengan fokus pada masyarakat perdesaan.
- Integrasi Kecerdasan Buatan (AI) dalam Pengawasan: Mengimplementasikan sistem Supra-Tech berbasis AI untuk mendeteksi transaksi mencurigakan secara real-time di seluruh sektor jasa keuangan.
- Optimalisasi Bursa Karbon Indonesia: Mendorong lebih banyak perusahaan masuk ke pasar karbon guna mendukung target Net Zero Emission 2060.
- Penguatan Ketahanan Siber Perbankan: Mewajibkan seluruh bank umum memiliki sistem pertahanan siber berlapis menyusul meningkatnya ancaman digital di tahun 2026.
- Ekspansi Pembiayaan UMKM: Mempermudah akses kredit bagi pelaku usaha mikro melalui skema credit scoring alternatif yang lebih inklusif.
- Harmonisasi Regulasi Aset Kripto: Memastikan transisi pengawasan aset keuangan digital dari Bappebti ke OJK berjalan mulus tanpa mengganggu likuiditas pasar.
Friderica Widyasari Dewi, dalam pernyataan singkatnya, menyebutkan koordinasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan meningkat. “Fokus kami adalah perlindungan konsumen tanpa menghambat inovasi. Kami mendengar masukan DPR untuk melakukan pemulihan secara terukur,” ungkapnya.








