Bandar Lampung (lampost.co)–PT Angkasa Pura Indonesia mempertegas komitmennya untuk memperkuat posisi Bandara Radin Inten II Lampung sebagai bandara internasional yang kompetitif di Pulau Sumatera. Berada di bawah naungan Region III yang membawahi 11 bandara, Lampung kini diposisikan sebagai pilar strategis yang menopang trafik penerbangan nasional.
CEO Regional III PT Angkasa Pura Indonesia, Dwi Ananda Wicaksono, mengungkapkan bahwa dari sisi lalu lintas penerbangan, Lampung saat ini menempati peringkat keempat terbesar di wilayahnya, bersaing ketat dengan Pekanbaru, Palembang, dan Padang.
“Lampung adalah andalan kami di Region III dengan angka traffic yang luar biasa. Secara infrastruktur, bandara ini sudah sangat representatif dan modern untuk melayani standar internasional,” ujar Dwi, Jumat, 13 Februari 2026.
Secara geografis, Lampung menghadapi tantangan unik karena berada di antara dua hub raksasa: Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Singapura. Namun, ia menilai posisi ini justru merupakan peluang emas untuk menawarkan konektivitas langsung yang lebih efisien bagi masyarakat tanpa harus melakukan transit panjang.
Saat ini, rute internasional yang dibuka masih berstatus charter. Angkasa Pura Indonesia tengah melakukan uji coba operasional secara menyeluruh untuk memastikan kesiapan fasilitas dan perizinan sebelum mempromosikan rute ini ke berbagai maskapai global.
“Visi kami adalah menjadi operator kelas dunia dengan hospitality khas Indonesia. Jika operasional awal ini terbukti stabil, kami akan memberikan dukungan penuh untuk mendorong rute ini menjadi penerbangan reguler berjadwal,” tegasnya.
Bukan Sekadar Pintu Gerbang
Angkasa Pura Indonesia mengusung filosofi baru dalam pengelolaan bandara. Dwi menekankan bahwa Bandara Radin Inten II kini tidak lagi sekadar sebagai “pintu gerbang”. Melainkan sebagai “wajah” yang merepresentasikan identitas daerah dan negara.
“Kalau pintu gerbang hanya dilewati sekali. Tapi kalau wajah, jika cantik dan berkesan, orang akan rindu untuk kembali. Itulah standar layanan yang ingin kami hadirkan di Lampung,” imbuhnya.
Potensi pasar dari Malaysia dan China target utama. Kedua negara tersebut merupakan penyumbang wisatawan mancanegara terbesar di Asia. Dengan peningkatan layanan dan keterbukaan akses langsung, Lampung menangkap peluang investasi dan kunjungan wisata yang lebih masif.
“Semoga demand terus meningkat dan hitungan bisnisnya masuk. Ini bukan hanya tentang satu penerbangan, tapi tentang membuka pintu peluang besar bagi masa depan ekonomi Lampung,” pungkasnya.








