Bandar Lampung (Lampost.co)—- Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 membawa berkah bagi para perajin kue keranjang di Bandar Lampung. Permintaan yang terus meningkat membuat produksi kue khas Imlek itu melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir.
Salah seorang perajin kue keranjang di Bandar Lampung, Hasan Kurniawan, mengatakan proses produksi sudah dimulai sejak pertengahan Januari. Pada awalnya, pesanan masih berjalan landai, namun mendekati hari perayaan, jumlah permintaan melonjak signifikan.
“Di awal produksi memang belum terlalu ramai, tapi semakin mendekati Imlek, pesanan meningkat pesat,” ujarnya.
Baca juga: Ribuan Lampion Sambut Perayaan Imlek
Jika sebelumnya produksi hanya sekitar 1.000 buah per hari, kini kapasitasnya naik dua kali lipat menjadi 2.000 buah per hari. Bahkan, menjelang hari terakhir produksi, seluruh tenaga ia kerahkan untuk memenuhi permintaan konsumen.
Hasan menjelaskan, kue keranjang kini tidak lagi identik hanya dengan masyarakat keturunan Tionghoa. Di Lampung, kue ini sudah menjadi sajian populer yang menikmati berbagai kalangan.
Banyak warga membeli kue tersebut untuk membagikan kepada tetangga maupun rekan kerja sebagai simbol kebersamaan.
Produksi Sesuai Permintaan Pasar
Dari segi ukuran, kue keranjang memproduksi sesuai permintaan pasar, mulai dari ukuran kecil hingga standar. Proses pembuatannya pun membutuhkan ketelatenan. Bahan utama berupa tepung ketan dan gula dengan perbandingan 1:1 mengkukus selama kurang lebih 12 jam hingga menghasilkan tekstur legit dan kenyal.
Namun, tahun ini harga jual mengalami sedikit penyesuaian. Kenaikan harga bahan baku, terutama tepung ketan yang kini mencapai Rp20 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp14-15 ribu, membuat harga kue naik Rp1.000 per buah. Untuk pembelian langsung dari sentra produksi di kawasan Kampung Sawah, dua buah kue keranjang dijual seharga Rp30 ribu, sementara di luar kawasan tersebut bisa mencapai Rp35 ribu.
Secara tradisi, kue keranjang memiliki makna filosofis sebagai simbol perekat hubungan keluarga dan persaudaraan. Dahulu, kue ini dicetak menggunakan wadah anyaman bambu berbentuk keranjang, sehingga dikenal sebagai kue keranjang. Sebagian masyarakat juga menyebutnya sebagai kue tutun atau dodol Cina.
Menariknya, tahun ini perayaan Imlek berdekatan dengan awal Ramadhan. Kondisi ini membuat para perajin harus bersiap menghadapi dua momentum besar sekaligus. Usai menuntaskan produksi kue keranjang, mereka langsung beralih menyiapkan aneka kue untuk menyambut Ramadhan dan Lebaran.
“Setelah Imlek selesai, kami langsung fokus produksi kue Ramadhan. Jadi memang tahun ini lebih sibuk karena dua momen besar datang berdekatan,” tutup Hasan.








