Bandar Lampung (Lampost.co) — Skuter asal Italia selalu identik dengan gaya dan prestise. Di Indonesia, nama Vespa melekat kuat sebagai simbol kendaraan premium.
Model seperti Vespa Sprint, Vespa Primavera, dan Vespa LX semakin populer di kota besar. Banyak pengguna urban memilihnya demi tampilan retro yang elegan.
Namun, di balik desain menawan, ada sejumlah pertimbangan penting. Terutama bagi Anda yang mengutamakan efisiensi dan kepraktisan.
Tidak Ada Kickstarter, Risiko Saat Aki Bermasalah
Vespa matic modern tidak menyediakan kickstarter. Motor itu sepenuhnya mengandalkan starter elektrik.
Saat aki melemah, Anda tidak bisa menyalakan mesin secara manual. Situasi itu merepotkan jika terjadi di tengah kemacetan. Anda mungkin harus mendorong motor atau memanggil towing. Biayanya tentu tidak murah.
Sebaliknya, beberapa motor Jepang seperti Honda Scoopy masih menyediakan kickstarter. Fitur sederhana itu memberi rasa aman tambahan.
Bobot Lebih Berat, Kurang Lincah di Kemacetan
Vespa Sprint memiliki bobot sekitar 115 hingga 120 kilogram. Angka itu lebih berat daripada Honda PCX yang berada di kisaran 110 kilogram.
Perbedaan tersebut terasa saat bermanuver di jalan padat. Parkir di ruang sempit juga lebih menantang. Pengendara pemula bisa kesulitan saat harus menahan motor di tanjakan.
Bobot berat juga menyulitkan saat motor terjatuh. Suspensi Vespa cenderung lebih kaku. Jalan berlubang terasa lebih keras dibandingkan skuter Jepang.
Performa Mesin Cukup, Tapi Tidak Istimewa
Mayoritas Vespa matic memakai mesin 125cc hingga 150cc. Tenaganya berkisar 10 sampai 12 hp. Mesin itu cukup untuk perjalanan dalam kota. Namun, akselerasi terasa biasa saat membawa penumpang.
Beberapa pengguna membandingkannya dengan Yamaha Lexi yang terasa lebih responsif dengan harga lebih rendah. Sistem pendingin udara juga membuat mesin cepat panas saat macet panjang. Suhu meningkat lebih cepat di iklim tropis.
Harga Ban Mahal dan Ganti Lebih Rumit
Vespa memakai ukuran ban khusus seperti 110/70-12 atau 120/70-12. Harga satu set bisa menyentuh Rp800 ribu hingga Rp1,5 juta. Proses penggantian ban juga tidak sederhana. Mekanik perlu melepas bagian knalpot terlebih dahulu.
Beberapa model memiliki sensor yang rentan error jika pemasangan kurang tepat. Banyak bengkel umum enggan menangani Vespa karena kerumitannya. Akhirnya, pemilik kembali ke bengkel resmi dengan biaya lebih tinggi.
Pajak Tahunan Lebih Tinggi
Vespa masuk kategori skuter premium. Pajak tahunannya bisa berkisar Rp500 ribu hingga Rp800 ribu. Nominal itu lebih tinggi dibandingkan motor Jepang sekelas.
Beban biaya terasa saat kondisi jalan belum ideal. Pengendara tetap harus berhati-hati melewati jalan rusak. Velg dan suspensi tetap berisiko terdampak.
Harga Beli dan Servis Dinilai Tinggi
Harga baru Vespa Sprint bisa menyentuh Rp50 juta hingga Rp60 juta. Di rentang itu, Anda bisa melirik Honda ADV atau Yamaha XMAX dengan fitur lebih lengkap.
Biaya servis rutin juga tidak murah. Servis berkala bisa menghabiskan Rp500 ribu hingga Rp1 juta. Spare part impor membuat harga komponen lebih mahal.
Filter udara dan belt CVT bisa dua kali lipat harga motor Jepang. Jaringan bengkel resmi juga terbatas. Anda tidak bisa menemukannya di setiap kecamatan.
Minim Fitur Modern
Beberapa model Vespa belum menyediakan konektivitas Bluetooth. Sistem ABS juga tidak selalu menjadi standar.
Padahal kompetitor di harga lebih rendah sudah menawarkan fitur tersebut. Hal itu membuat sebagian orang merasa harga Vespa kurang sebanding.
Vespa matic tetap menarik dari sisi desain dan citra. Motor itu menawarkan karakter unik yang sulit ditiru. Namun, Anda perlu mempertimbangkan biaya dan kepraktisan. Jika mengutamakan efisiensi dan kemudahan servis, pilihan lain mungkin lebih rasional.
Vespa cocok bagi pencinta gaya dan identitas klasik. Tetapi bagi pengguna yang tidak suka ribet, skuter Jepang bisa menjadi alternatif lebih masuk akal.







