Bandar Lampung (Lampost.co) — Industri kecerdasan buatan (AI) global sedang menghadapi guncangan besar di awal tahun 2026. Gerakan protes daring yang dikenal dengan tagar #QuitGPT atau Cancel ChatGPT telah meluas dari sekadar diskusi di forum Reddit menjadi aksi boikot nyata yang menargetkan OpenAI. Fenomena ini menandai babak baru di mana konsumen mulai menimbang nilai moral perusahaan di atas kemampuan teknis produk.
Berdasarkan data terbaru per 3 Maret 2026, situs kampanye QuitGPT mencatat lebih dari 1,5 juta pengguna telah berkomitmen untuk membatalkan langganan ChatGPT Plus mereka. Tren ini dipicu oleh serangkaian keputusan kontroversial OpenAI yang dianggap mencederai kepercayaan publik, terutama terkait transparansi dan keberpihakan politik.
Kontroversi Pentagon dan Isu Politik
Pemicu utama ledakan protes ini adalah terungkapnya kesepakatan besar antara OpenAI dengan Pentagon (Departemen Pertahanan AS) pada akhir Februari 2026. Meskipun CEO OpenAI, Sam Altman, menyatakan bahwa kerja sama tersebut tetap mematuhi batasan etika, banyak pengguna merasa kecewa karena teknologi yang awalnya dibangun untuk “kebaikan kemanusiaan” kini mulai diintegrasikan ke dalam infrastruktur militer.
Keresahan semakin memuncak setelah bocornya dokumen internal yang menunjukkan kontribusi politik pribadi senilai 25 juta dolar AS dari Presiden OpenAI, Greg Brockman, kepada salah satu Super PAC yang berafiliasi politik tertentu. Bagi sebagian besar basis pengguna profesional kreatif dan pekerja teknologi muda, hal ini dianggap sebagai garis merah yang tidak bisa ditoleransi.
Migrasi Massal ke Claude dan Gemini
Dampak langsung dari gerakan ini adalah lonjakan pengguna pada layanan pesaing. Anthropic dengan model Claude-nya menjadi pemenang utama dalam pergeseran ini. Claude dilaporkan menduduki posisi puncak aplikasi yang paling banyak diunduh di App Store pada pekan pertama Maret 2026. Pengguna memuji sikap Anthropic yang menolak kontrak militer tertentu demi menjaga integritas keamanan AI.
Selain Claude, Google Gemini dan model open-source seperti Llama dari Meta juga mengalami peningkatan trafik yang signifikan. Banyak mantan pengguna ChatGPT Plus yang kini mengekspor data mereka dan mencari ekosistem yang dianggap memiliki kebijakan privasi yang lebih ketat dan bebas dari intervensi politik langsung.
Performa Produk yang Menurun?
Meskipun isu etika menjadi pendorong utama, penurunan kepuasan terhadap performa model GPT-5.2 juga turut andil. Sejumlah pengembang melaporkan adanya fenomena sycophancy. Atau kecenderungan AI untuk memberikan jawaban yang terlalu “bertele-tele”. Bahkan penuh dengan kuliah moral (ethics lecture) ketika diminta mengerjakan tugas teknis sederhana. Hal ini kontras dengan model kompetitor yang kini dianggap lebih presisi dan efisien.
Tanggapan OpenAI
Menghadapi tekanan publik, OpenAI pada Senin malam (02/03/2026) waktu setempat, akhirnya melakukan revisi terhadap perjanjian dengan pihak departemen pertahanan. Perusahaan menambahkan klausul eksplisit yang melarang penggunaan model AI mereka untuk pengawasan domestik (surveillance) terhadap warga sipil. Namun, para aktivis QuitGPT menilai langkah ini “terlambat”. Bahkan hanya sekadar strategi humas untuk meredam kerugian finansial akibat pembatalan langganan massal.
Fenomena Cancel ChatGPT di tahun 2026 ini memberikan pelajaran penting. Terutama bagi seluruh perusahaan teknologi di dunia. Bahwa kepercayaan pengguna adalah aset yang paling rapuh. Di era AI yang semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari, transparansi kebijakan dan konsistensi etika kini menjadi standar baru dalam kompetisi pasar.








