Bandar Lampung (Lampost.co) — Penceramah Dr. Andi Eka Putra atau yang biasa disapa ustaz Anas Hidayatullah mengingatkan mengenai hikmah saling memaafkan antarsesama.
Rasa saling memaafkan bisa meningkatkan kesehatan dan mewujudkan kedamaian jiwa.
Hal tersebut disampaikan saat kegiatan halalbihalal Pemerintah Provinsi Lampung di halaman Kantor Gubernur Lampung, Senin, 30 Maret 2026.
Baca Juga:
Gubernur Lampung Bagikan Hadiah Umrah untuk ASN Pengkhatam Al-Qur’an
Kemudian ia menekankan pentingnya memaafkan dan dampaknya terhadap kesehatan fisik dan spiritual. Memaafkan dapat meningkatkan kesehatan jantung, menurunkan tekanan darah, dan meningkatkan kualitas tidur.
Dalam ajaran Islam, memaafkan adalah ciri penghuni surga. Dalam konteks Idul Fitri, pembicara mendorong untuk saling memaafkan dan tidak menyimpan kebencian yang dapat mempengaruhi kesehatan mental dan fisik.
Selain itu, pembicara menyinggung tentang pentingnya bersyukur dan berbagi dengan sesama. Terutama dengan mereka yang kurang beruntung.
Ia juga menyoroti bahwa tindakan berbagi dan memberi kasih sayang dapat mempererat hubungan sosial dan menciptakan lingkungan yang harmonis.
“Allah kasih kita waktu untuk peleburan dosa dengan melaksanakan salat Jumat berjemaah kenapa? Karena Allah tahu kita adalah manusia, tempatnya salah. Kita tahu kita tempatnya khilaf dan lupa. Maka, bulan Syawal ini lapangkan hati kita untuk saling memaafkan,” katanya.
Kesehatan Jantung
Kemudian ia menyampaikan memaafkan itu akan meningkatkan kesehatan jantung. Selanjutnya menurunkan tekanan darah dan meningkatkan kualitas tidur.
“Kalau kita tidak memberi maaf, kalau tidur pasti kepikiran. Maka tolong, sekarang banyak yang kena migrain, enggak bisa tidur, kesana-kesini. Saling memaafkanlah,” harapnya.
Selanjutnya kedua, saling memaafkan menunjukan kemuliaan, ketakwaan, dan ciri penghuni surga. Seperti yang diceritakan oleh Rasulullah bahwa ada sahabat yang masuk surga karena amalan. Yakni sebelum tidur memaafkan orang lain yang berbuat salah. Dan begitupun bila ia ada salah, maka ia menyampaikan maaf.
“Menyimpan kebencian itu menyakiti diri sendiri,” ungkapnya.
Kemudian ketiga, Lebaran bermakna lebur atau luber. Artinya memiliki arti yang melimpah atau meluap. Ramadan sebagai madrasah ruhaniah selama satu bulan. Selama itu juga belajar mengenai kedisiplinan dan kejujuran.
“Sukses atau tidaknya Ramadan kita bisa terlihat dengan rasa syukur kita. Semakin banyak bersyukur, maka semakin banyak ditambah Allah SWT,” katanya.
Selain itu, tindakan kasih sayang dapat meredakan ketegangan seperti yang terjadi dalam demonstrasi besar di Lampung. “Gubernur Lampung dan jajaran duduk lesehan bareng mendengarkan aspirasi demonstran. Ini bentuk kasih sayang,” ujarnya.
Maka Ramadan adalah waktu untuk melatih diri dalam hal kedisiplinan, kejujuran, dan kasih sayang yang seharusnya diteruskan setelah bulan suci berakhir.







