Bandar Lampung (Lampost.co) — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi kemunculan fenomena El Nino pada 2026 mencapai kisaran 50 hingga 60 persen.
Prediksi itu mengarah pada kemungkinan El Nino kategori lemah hingga moderat yang mulai berkembang pada semester kedua tahun 2026.
Saat ini, kondisi iklim global masih berada dalam fase netral. Namun, perubahan mulai terdeteksi menuju pertengahan tahun.
Apa Itu El Nino dan Dampaknya bagi Indonesia
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Perubahan itu memengaruhi pola cuaca global, termasuk Indonesia.
Ketika El Nino terjadi, awan hujan cenderung bergeser ke wilayah Pasifik. Akibatnya, Indonesia mengalami penurunan curah hujan.
Kemarau Lebih Panjang dan Suhu Lebih Panas
BMKG memperkirakan dampak utama El Nino adalah musim kemarau yang lebih panjang dan kering. Sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia berpotensi mengalami durasi kemarau lebih lama dari normal.
Selain itu, suhu udara juga berpotensi meningkat di berbagai daerah. Kondisi itu meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan.
Istilah “El Nino Godzilla” Tidak Ilmiah
Belakangan, muncul istilah “El Nino Godzilla” yang ramai di media sosial. BMKG menegaskan istilah tersebut bukan bagian dari klasifikasi ilmiah.
“Kategori El Nino hanya lemah, moderat, dan kuat,” jelas BMKG.
Istilah tersebut hanya digunakan secara informal untuk menggambarkan fenomena yang sangat kuat.
Waktu Kemunculan Perlu Diwaspadai
BMKG memperkirakan peluang El Nino mulai meningkat pada pertengahan hingga akhir 2026. Periode kritis bisa terjadi setelah Juni hingga Agustus. Pada fase tersebut, dampak terhadap cuaca Indonesia akan mulai terasa lebih signifikan.
Dampaknya, kemarau panjang berpotensi mengganggu sektor pertanian. Produksi pangan bisa menurun akibat keterbatasan air. Selain itu, risiko kebakaran hutan dan lahan juga meningkat.
BMKG mengingatkan masyarakat dan pemerintah untuk bersiap sejak dini. Petani disarankan menyesuaikan pola tanam dan memilih varietas tahan kekeringan. Pengelolaan sumber daya air juga perlu diperkuat untuk menghadapi potensi krisis.








