Jakarta (Lampost.co) — BMKG merilis prakiraan terbaru terkait awal musim kemarau 2026 di Indonesia. Berdasarkan analisis terbaru, musim kemarau akan datang secara bertahap mulai April 2026. Perubahan musim itu penting bagi masyarakat, terutama untuk sektor pertanian dan pengelolaan air.
BMKG menjelaskan kemarau tidak terjadi secara bersamaan di semua wilayah. Sebagian daerah mulai lebih awal, sementara wilayah lain menyusul pada bulan berikutnya. Sebaran awal kemarau terbagi dalam beberapa fase utama.
Sekitar 114 Zona Musim mulai kemarau pada April. Kemudian 184 zona menyusul pada Mei, dan 163 zona pada Juni. Pola itu menunjukkan peralihan musim berlangsung bertahap di Indonesia.
Daftar Wilayah yang Mulai Kemarau April 2026
BMKG mencatat sejumlah wilayah sudah memasuki kemarau sejak April. Wilayah tersebut meliputi pesisir utara Jawa bagian barat. Kemudian pesisir utara dan selatan Jawa Tengah juga mulai mengalami penurunan curah hujan.
Sebagian besar wilayah DI Yogyakarta ikut masuk fase kemarau lebih awal. Selain itu, beberapa daerah di Jawa Timur juga mulai mengalami kondisi kering.
Wilayah Bali serta Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur menjadi daerah yang paling awal terdampak. Sebagian wilayah Sulawesi Selatan juga mulai memasuki musim kemarau.
BMKG memperkirakan sekitar 46,5 persen wilayah Indonesia mengalami kemarau lebih awal. Kondisi itu daripada dengan rata-rata klimatologi periode 1991 hingga 2020. Percepatan musim itu menjadi sinyal adanya perubahan pola iklim.
Prediksi Puncak Kemarau Juli hingga September
BMKG memproyeksikan puncak musim kemarau terjadi pada pertengahan tahun. Periode Juli hingga September menjadi fase paling kering di banyak wilayah.
Pada fase ini, curah hujan berada di bawah normal. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan.
Kemarau panjang berpotensi mengganggu produksi pertanian. Ketersediaan air juga bisa menurun di sejumlah wilayah.
Sektor energi dan kebencanaan ikut terdampak oleh kondisi ini. Untuk itu, langkah antisipasi perlu dilakukan sejak awal.
Informasi dari BMKG dapat menjadi acuan penting bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Langkah seperti pengelolaan air dan penyesuaian jadwal tanam perlu segera dilakukan. Dengan kesiapan sejak April, dampak kemarau dapat diminimalkan.








