Bandar Lampung (Lampost.co)–Perum Bulog Kantor Wilayah (Kanwil) Lampung menetapkan target ambisius dalam memperkuat cadangan pangan nasional. Sepanjang tahun 2026, Bulog menargetkan penyerapan jagung lokal sebanyak 120.000 ton. Langkah strategis ini sebagai upaya nyata menjaga ketersediaan stok pangan sekaligus menjadi instrumen stabilitas harga di tingkat petani.
Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kanwil Lampung, Rindo Safutra, mengungkapkan target besar ini berdasarkan pada potensi luar biasa Provinsi Lampung sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Fokus penyerapan akan mengarah pada sentra-sentra produksi utama yang selama ini menjadi tulang punggung komoditas jagung di Bumi Ruwa Jurai.
Lampung Selatan dan Lampung Timur Jadi Pemasok Utama
Dalam mencapai target tersebut, Bulog akan mengandalkan kontribusi besar dari dua kabupaten penyangga utama, yakni Lampung Timur dan Lampung Selatan. Kedua wilayah ini memiliki produktivitas yang konsisten dan kualitas hasil panen yang memenuhi standar industri.
Baca juga: Dukung Ketahanan Pangan, BBWS Mesuji Sekampung Modernisasi Irigasi Terbesar
“Ke depan, Bulog menargetkan penyerapan jagung mencapai 120.000 ton, dengan kontribusi utama dari Kabupaten Lampung Timur dan Lampung Selatan,” ujar Rindo Safutra dalam keterangannya baru-baru ini.
Hingga memasuki awal April 2026, tren penyerapan menunjukkan grafik yang positif. Tercatat, dari total sekitar 2.700 ton jagung yang telah Bulog serap secara keseluruhan tahun ini, sekitar 1.000 ton di antaranya berasal dari petani di wilayah Lampung Selatan. Rindo optimistis angka ini akan terus melonjak seiring dengan penguatan kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga penyangga pangan, dan kelompok tani.
Panen Raya Gabah di Lampung Selatan Tembus 80.000 Ton
Tidak hanya fokus pada komoditas jagung, Bulog Lampung juga melaporkan capaian signifikan pada sektor tanaman pangan lainnya, yakni padi. Memasuki masa panen raya, penyerapan gabah dari petani, khususnya di Kabupaten Lampung Selatan, terus meningkat pesat.
Per 1 April 2026, total gabah yang berhasil Bulog serap telah mencapai angka 80.000 ton atau setara dengan 41.000 ton beras. Prediksinya angka ini akan terus bertambah dalam beberapa pekan ke depan, mengingat bulan April merupakan puncak musim panen di berbagai wilayah sentra produksi padi.
“Momentum panen raya ini kami optimalkan untuk mengejar target penyerapan sekaligus memperkuat cadangan beras pemerintah,” ujar Rindo. Ia pun memastikan stok beras di wilayah Lampung saat ini berada dalam kondisi yang sangat aman dan mencukupi untuk kebutuhan masyarakat luas.
Menjaga Stabilitas Harga demi Kesejahteraan Petani
Upaya masif Bulog mendapat dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan. Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkab Lampung Selatan, Tri Umaryani, menekankan tingginya kebutuhan jagung di daerahnya berkaitan erat dengan sektor peternakan dan industri pakan ternak yang terus berkembang.
Namun, Tri memberikan catatan penting bahwa produktivitas yang melimpah harus dibarengi dengan stabilitas harga di tingkat lapangan. Jangan sampai panen yang melimpah justru membuat harga jual di tingkat petani jatuh (anjlok).
“Kita ingin produksi yang tinggi tetap memberikan keuntungan bagi petani. Stabilitas harga harus dijaga agar mereka tetap semangat meningkatkan produksi,” ujar Tri Umaryani. Dengan sinergi antara serapan Bulog dan kebutuhan industri, harapannya ekosistem pangan di Lampung tetap sehat dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi para petani lokal.








