Bandar Lampung (Lampost.co) — Perajin tapis yang juga istri dari Kopda Angga Dwi Ferdian, prajurit yang berdinas di Yonif 143/TWEJ Kodam XXI/Radin Inten II, Asri, berhasil membuka peluang kerja. Serta berdampak bagi perekonomian warga sekitar.
Saat ini ia telah memiliki tujuh orang karyawan untuk membantunya menyelesaikan pesanan tapis.
Asri mengaku, penjualan tapis saat ini masih terpusat di Lampung, namun tidak sedikit juga menerima pesanan dari luar Lampung seperti Jakarta.
“Kalau pesanan banyak masih dari Lampung, tapi banyak juga yang berasal dari istri prajurit dari Jakarta,” ungkapnya.
Menurutnya, tapis yang ia hasilkan bisa dibuat sesuai dengan permintaan costumer. “Biasanya konsumen bawa contoh, nanti kami buatkan pola dasarnya, kemudian nanti buat menjadi tapis,” sebutnya.
Dalam satu bulan, Asri mengaku mampu menyelesaikan pesanan kain 4-7 tapis dengan berbagai motif.
Baca Juga:
Pangdam XXI/Radin Inten II Dukung Istri Anggota Kembangkan Tapis Lampung
Dukungan pun mengalir dari lingkungan organisasi. Pangdam XXI/Radin Inten II Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Kristomei Sianturi menyampaikan apresiasinya atas semangat yang ditunjukkan Asri.
“Kami sangat mengapresiasi kreativitas dan ketekunan Ibu Asri dalam mengembangkan tapis Lampung. Upaya ini tidak hanya menjaga warisan budaya. Tetapi juga memberikan dampak nyata bagi pemberdayaan ekonomi keluarga dan masyarakat sekitar. Ini menjadi contoh bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan,” ujarnya.
Dengan modal awal sekitar Rp20 juta, Asri merintis usahanya secara bertahap. Ia belajar mengelola produksi, memahami strategi pemasaran, hingga mengatur keuangan usaha.
Tidak sedikit tantangan yang ia hadapi, mulai dari menjaga kualitas hingga memperluas pasar. Hingga kini usahanya berkembang yang tergabung dalam Ajang Persit Bisa 2.
Memberdayakan dan Menginspirasi
Kini, Asri Tapis Lampung telah mempekerjakan tujuh orang karyawan. Usaha tersebut tidak hanya menjadi sumber penghasilan keluarga. Tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.
Bagi Asri, keberhasilan bukan semata diukur dari angka penjualan. Ia ingin generasi muda tetap mengenal dan mencintai tapis sebagai identitas budaya daerah. Ia ingin membuktikan bahwa kain tradisional tidak kalah elegan dibanding produk modern.
Dari ruang puskesmas hingga ruang produksi, dari peran sebagai istri prajurit hingga pelaku UMKM. Asri menunjukkan bahwa perempuan dapat berdiri di banyak peran sekaligus.
Di tangannya, tapis bukan hanya kain, melainkan cerita tentang ketekunan, keberanian, dan upaya menjaga jati diri Lampung di tengah arus zaman.








