Bandar Lampung (Lampost.co): Kenaikan harga plastik yang melonjak tajam mulai menekan pelaku industri tempe dan tahu di Provinsi Lampung. Pemerintah Provinsi Lampung melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan langsung turun ke lapangan untuk memastikan aktivitas produksi tetap berjalan stabil.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Lampung, M. Zimmi Skil, mengungkapkan harga plastik naik signifikan hingga 40 sampai 70 persen. Ia menilai lonjakan tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi karena sebagian besar pelaku usaha masih mengandalkan plastik sebagai kemasan utama.
“Kami turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi riil dan memastikan dampak kenaikan harga plastik terhadap industri tempe dan tahu di Lampung,” ujar Zimmi.
Zimmi menjelaskan kenaikan harga plastik terjadi akibat lonjakan harga bahan baku nafta, turunan minyak bumi yang menjadi bahan dasar biji plastik. Ia menegaskan ketidakstabilan geopolitik global, khususnya di jalur distribusi minyak melalui Selat Hormuz, ikut mendorong kenaikan tersebut.
“Naiknya harga minyak dunia langsung mendorong kenaikan harga nafta, sehingga harga plastik ikut meningkat,” jelasnya.
Di sisi lain, Zimmi memastikan pelaku usaha masih memperoleh pasokan kedelai impor dengan harga stabil. Ia menyebut harga kedelai saat ini berada di kisaran Rp10.000 per kilogram, lebih rendah dari harga acuan pemerintah sebesar Rp12.000 per kilogram.
“Kondisi ini memberi ruang bagi pelaku usaha untuk menjaga harga jual produk,” kata Zimmi.
Zimmi juga memastikan ketersediaan stok kedelai di Lampung tetap aman. Ia menyebut salah satu pemasok, PT Budi Andalan Group, menyimpan sekitar 500 ton kedelai impor dengan distribusi yang berjalan lancar.
“Stok tersedia cukup dan distribusi berjalan tanpa hambatan,” tambahnya.
Alternatif
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Perindustrian Perdagangan Lampung mendorong pelaku industri, khususnya produsen tempe, agar beralih menggunakan daun pisang sebagai bahan kemasan alternatif. Zimmi menilai langkah ini mampu menekan biaya sekaligus menghadirkan nilai kesehatan dan kearifan lokal.
“Kami mengimbau pelaku usaha memanfaatkan daun pisang karena lebih ekonomis, ramah lingkungan, dan konsumen sangat berminat,” ujarnya.
Zimmi juga mengingatkan pelaku usaha untuk tidak menggunakan plastik yang tidak memenuhi standar karena dapat menimbulkan risiko kesehatan akibat kandungan residu bahan kimia.
Pemerintah daerah terus menjalin koordinasi dengan pemerintah pusat untuk menjaga stabilitas pasokan bahan baku plastik. Zimmi menyebut pemerintah pusat saat ini menjajaki kerja sama dengan sejumlah negara di kawasan Afrika dan Amerika guna menjamin ketersediaan minyak bumi sebagai bahan dasar nafta.
“Kami berharap langkah ini menghadirkan solusi jangka panjang agar pasokan tetap terjaga dan harga kembali stabil,” pungkasnya








