Bandar Lampung (lampost.co) — Pemerintah Provinsi Lampung terus menjaga stabilitas harga pangan dengan memperkuat produksi dan distribusi komoditas strategis. Pada minggu kedua April 2026, Lampung mencatat deflasi 0,88 persen berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP).
Staf Ahli Gubernur Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Bani Ispriyanto, menilai capaian ini memperkuat daya beli masyarakat di tengah dinamika harga pangan nasional. Penurunan harga dipicu komoditas utama seperti daging sapi, cabai rawit, dan daging ayam ras.
“Tren ini harus kami jaga dengan langkah konkret di sektor produksi dan distribusi,” kata Bani saat mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah dan Program 3 Juta Rumah secara virtual, Senin, 13 April 2026.
Pemprov Lampung kini mendorong pengembangan kawasan aneka cabai seluas 300 hektare. Program ini menyasar tingkat desa untuk menutup defisit cabai rawit sebesar 3.427 ton dan cabai besar 1.300 ton.
Selain produksi, pemerintah daerah juga memperkuat intervensi pasar melalui stok cadangan pangan. Perum Bulog telah menyalurkan 1.742 ton beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di Lampung.
Distribusi minyak goreng Minyakita juga terus berjalan. Hingga kini, penyalurannya mencapai 2,7 juta liter di berbagai wilayah guna menjaga harga tetap terjangkau.
Bani menegaskan, pemerintah daerah akan terus mempercepat distribusi bahan pokok ke pasar rakyat agar pasokan tetap aman dan harga terkendali.
Dalam rapat tersebut, Pemprov Lampung juga menegaskan dukungan terhadap Program Strategis Nasional 3 Juta Rumah. Pemerintah daerah berupaya menyelaraskan kebijakan ekonomi dengan pembangunan perumahan untuk mendorong kesejahteraan masyarakat.
“Kami fokus menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mempercepat pembangunan yang berdampak langsung bagi masyarakat,” ujarnya.









