Para peneliti aerospace menyebut rotor berkecepatan tinggi untuk Mars sebagai salah satu tantangan teknik paling kompleks dalam dunia antariksa modern.
Bandar Lampung (Lampost.co) — Eksplorasi Planet Mars tampaknya akan memasuki babak baru. Setelah sukses menerbangkan helikopter mini pertama di planet lain lewat proyek Ingenuity, NASA kini sedang mengembangkan teknologi yang jauh lebih ambisius.
Bukan sekadar drone biasa, NASA disebut tengah menguji rotor helikopter Mars generasi baru yang mampu berputar hingga mendekati kecepatan suara.
Teknologi futuristik ini menjadi bagian dari konsep misi bernama SkyFall, sistem eksplorasi udara yang dirancang agar manusia bisa menjelajahi Mars lebih cepat dibanding rover konvensional.
Mars memang punya gravitasi lebih rendah dibanding Bumi, tetapi ada masalah besar lainnya: atmosfer planet tersebut sangat tipis.
Kepadatan atmosfer Mars hanya sekitar satu persen dari atmosfer Bumi. Akibatnya, helikopter biasa hampir mustahil menghasilkan daya angkat yang cukup untuk terbang stabil.
Karena itulah rotor atau baling-baling helikopter Mars harus berputar jauh lebih cepat dibanding helikopter di Bumi.
Dalam pengujian terbaru di laboratorium Jet Propulsion Laboratory (JPL), ujung rotor eksperimental NASA bahkan disebut mampu bergerak hingga Mach 0,95 atau mendekati kecepatan suara.
Pengembangan ini merupakan kelanjutan dari keberhasilan Ingenuity yang mencetak sejarah pada 2021 sebagai kendaraan pertama yang berhasil terbang di planet lain.
Awalnya Ingenuity hanya dirancang untuk beberapa penerbangan percobaan. Namun drone kecil tersebut justru mampu bertahan jauh lebih lama dan menyelesaikan puluhan misi di Mars.
Keberhasilan itu membuat NASA semakin yakin bahwa eksplorasi udara akan menjadi bagian penting dalam misi Mars masa depan.
Konsep SkyFall yang sedang dikembangkan NASA tidak hanya mengandalkan satu helikopter.
Sistem ini dirancang agar beberapa drone atau helikopter mini dapat dikirim bersamaan ke berbagai wilayah Mars.
Keunggulan metode ini cukup besar dibanding rover darat.
Jika rover bergerak lambat dan sulit melewati medan ekstrem, drone udara bisa menjangkau:
dalam waktu jauh lebih cepat.
NASA menilai teknologi drone supersonik ini nantinya bisa membantu membawa instrumen ilmiah ringan untuk meneliti berbagai lokasi penting di Mars.
Target utamanya adalah mencari petunjuk kehidupan purba serta memetakan area potensial untuk misi manusia di masa depan.
Dengan kemampuan terbang lebih fleksibel, ilmuwan bisa menjelajahi wilayah yang selama ini sulit dijangkau kendaraan darat.
Meski terdengar futuristik, proyek ini bukan hal mudah.
Para peneliti aerospace menyebut rotor berkecepatan tinggi untuk Mars sebagai salah satu tantangan teknik paling kompleks dalam dunia antariksa modern.
Selain harus sangat ringan, baling-baling juga wajib tahan terhadap:
NASA sendiri masih terus menguji stabilitas penerbangan, efisiensi energi, dan ketahanan material sebelum teknologi ini benar-benar digunakan dalam misi nyata.
Selama ini eksplorasi Mars identik dengan rover lambat yang berjalan di permukaan planet merah.
Namun lewat teknologi seperti SkyFall, masa depan eksplorasi antariksa mungkin akan berubah menjadi armada drone otonom yang mampu menjelajahi Mars dari udara dengan kecepatan tinggi.
Dan jika proyek ini berhasil, bukan tidak mungkin suatu hari nanti langit Mars akan dipenuhi kendaraan terbang buatan manusia.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update