Bandar Lampung (Lampost.co) — Universitas Lampung (Unila) segera meluncurkan program strategis bertajuk “Unila Care” sebagai langkah konkret memperkuat perhatian terhadap kesehatan mental. Juga pada kesejahteraan psikologis sivitas akademika.
Program ini menjadi bagian dari komitmen kampus menuju visi besar Unila Unggul dan Berdaya Saing Global.
Rektor Unila Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM., ASEAN Eng., menyampaikan hal tersebut saat membuka Workshop dan Pembinaan Penanganan Konseling UPA Bimbingan Konseling (BK) bertema “Merawat Kesejahteraan Psikologis Tenaga Kependidikan Universitas Lampung” di Ruang Sidang Utama Rektorat Unila, Senin (10/11/2025).
“Kegiatan ini bagian dari upaya kolektif menciptakan lingkungan kampus yang sehat dan harmonis. ‘Unila Care’ akan menjadi payung program kesehatan mental, konseling, pencegahan kekerasan, dan penyalahgunaan narkoba di perguruan tinggi,” ujar Prof. Lusmeilia.
Unila Care, Wujud Kepedulian dan Kesadaran Diri
Program Unila Care, yang dijadwalkan resmi diluncurkan pada 18 November 2025, difokuskan pada peningkatan kesejahteraan psikososial. Ini berlaku bagi dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan mitra kerja universitas.
Prof. Lusmeilia menekankan bahwa isu kesehatan mental bukan lagi hal tabu, melainkan bagian penting dari pembangunan manusia unggul.
“Meminta bantuan bukan tanda kelemahan, tetapi bentuk kekuatan. Mengakui bahwa kita membutuhkan dukungan adalah langkah pertama menjaga kesejahteraan mental,” tegasnya.
Menurutnya, kampus yang unggul tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik dan riset, tetapi juga oleh lingkungan kerja yang sehat secara psikologis dan sosial.
UPA BK Jadi Garda Depan Kesehatan Psikososial
Kepala UPA BK Unila, Prof. Dr. Novita Tresiana, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi dari mandat universitas. Yaitu dalam pengarusutamaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) psikososial di lingkungan kampus.
“UPA BK mendapat mandat mendukung pelaksanaan K3 termasuk kesejahteraan psikologis. Workshop ini menjadi langkah awal mewujudkan kampus yang tangguh secara mental,” ujar Prof. Novita.
Workshop menghadirkan sembilan psikolog profesional yang tergabung dalam associate psikolog UPA-BJ sebagai narasumber dan fasilitator.
Sebanyak 44 peserta yang terdiri atas tenaga kependidikan dari delapan fakultas, Pascasarjana, lembaga, biro, dan unit pelaksana administratif mengikuti kegiatan ini.
Peserta mendapatkan pelatihan peningkatan literasi Psychological Well-Being (PWB), asesmen awal kondisi psikologis, hingga penyusunan Action Plan (SMART) yang dapat diimplementasikan langsung di unit kerja masing-masing.
Langkah Lanjutan dan Dampak Nyata
Workshop menghasilkan baseline kesejahteraan psikologis tenaga kependidikan. Selain itu, Action Plan per unit kerja yang menjadi dasar bagi UPA BK untuk menyusun program intervensi lanjutan pada tahun 2026.
Program ini menegaskan keseriusan Unila dalam membangun ekosistem kampus yang peduli dan inklusif. Dengan kesejahteraan psikologis sebagai pilar utama, ini mendukung pengembangan sumber daya manusia unggul.
Kesehatan Mental, Pilar SDM Unggul
Melalui Unila Care, universitas ingin memastikan bahwa setiap individu di lingkungan kampus memiliki akses terhadap dukungan emosional. Selain itu, layanan konseling, serta ruang aman untuk berbicara dan berkembang.
“Unila ingin menjadi rumah yang aman bagi semua. Di sini, kesejahteraan mental dan emosional bukan sekadar slogan, tetapi komitmen nyata,” pungkas Prof. Lusmeilia.
Program ini sekaligus menjadi bukti nyata transformasi Unila dalam menjawab tantangan zaman. Bahwa kampus unggul harus dimulai dari manusia yang sehat lahir dan batin.








