Antrean muncul akibat ketimpangan pasokan antar SPBU. Beberapa SPBU kehabisan kuota lebih cepat saat permintaan melonjak.
Bandar Lampung (Lampost.co) — Pemerintah Provinsi Lampung meminta penyesuaian pola distribusi BBM ke SPBU. Langkah itu bertujuan menekan antrean kendaraan.
Kepala Dinas ESDM Lampung, Febrizal Levi Sukmana, menyampaikan Pemprov ingin distribusi mengikuti kebutuhan tiap wilayah. Sebab, antrean muncul akibat ketimpangan pasokan antar SPBU. Beberapa SPBU kehabisan kuota lebih cepat saat permintaan melonjak.
Setiap SPBU memiliki batas kuota harian. SPBU dengan kuota habis tidak mendapat pasokan tambahan meski permintaan tinggi. Untuk itu, Pemprov meminta fleksibilitas kuota antar SPBU segera diterapkan. Penyesuaian kuota penting untuk memperbaiki tata kelola distribusi.
“Skema fleksibel membuat SPBU dengan antrean panjang bisa menerima tambahan pasokan. Langkah itu akan mencegah penumpukan kendaraan,” kata Levi.
Pemprov juga memperkuat koordinasi dengan Pertamina dan BP MIGAS. Pemerintah daerah ingin pemenuhan kebutuhan BBM dan LPG tetap stabil. Pemprov mendorong Pertamina menghadirkan inovasi distribusi energi. Fokus utama ada pada BBM bersubsidi dan LPG 3 kilogram.
Hingga kini, pemanfaatan biosolar di Lampung mencapai 89,91 persen. Total kuota biosolar tahun ini 790.765 kiloliter. Konsumsi biosolar harian menembus 2.100 kiloliter. Pemprov mengusulkan peningkatan pasokan menjadi 2.450 kiloliter.
Realisasi Pertalite di Lampung mencapai 80,57 persen dari kuota 748.883 kiloliter. Sisa kuota masih tersedia hingga akhir tahun. Sementara itu, alokasi LPG 3 kilogram terserap 98,9 persen dengan kuota LPG Lampung mencapai 217.836 Mega Pascal.
“Pemprov optimistis fleksibilitas distribusi mampu menekan antrean SPBU. Pemerintah berkomitmen menjaga layanan energi tetap lancar,” ujar dia.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update