Bandar Lampung (Lampost.co) — Presiden Prabowo menyatakan optimisme terhadap arah ekonomi Indonesia pada 2026. Sejumlah indikator utama menunjukkan penguatan. Sementara BI menegaskan lima agenda sinergi sebagai fondasi transformasi ekonomi berbasis kerakyatan.
Presiden Prabowo memberikan apresiasi kepada Bank Indonesia dan seluruh pemangku kepentingan ekonomi atas upaya berkelanjutan dalam menjaga stabilitas serta ketahanan ekonomi nasional.
“Tangguh dan mandiri, sinergi mendorong ekonomi lebih tinggi dan berdaya tahan. Saya merasa ini sangat tepat dan sesuai dengan upaya besar yang sedang berjalan,” ujar Presiden Prabowo.
Senada, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam laporannya menyampaikan outlook perekonomian Indonesia pada 2026 menunjukkan arah yang semakin kuat. Sejumlah indikator utama terekam positif, seperti inflasi yang tetap terjaga. Selain itu, percepatan realisasi belanja pemerintah hingga perkembangan pesat digitalisasi di berbagai daerah juga positif.
“Risiko yang akan muncul seluruhnya sudah price-in, termasuk suku bunga dan harga-harga serta rupiah tahun ini. Pada 2026 yang kita lihat adalah upside risk dengan baseline di 5,4 persen sesuai dengan APBN. Jadi berharap dan optimis tahun depan akan lebih baik dari tahun ini,” kata Airlangga.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjabarkan lima pokok sinergi yang perlu penguatan. Ini untuk mendorong transformasi struktur ekonomi nasional. Hal itu juga mewujudkan pertumbuhan yang inklusif, tangguh, dan berbasis ekonomi kerakyatan.
Dia menekankan pentingnya stabilitas sebagai fondasi utama dalam lima sinergi tersebut, yang mencakup penguatan pembiayaan, pengembangan pasar keuangan, percepatan ekonomi digital, serta penguatan kolaborasi investasi dan perdagangan.








