Jakarta (Lampost.co) — Target pertumbuhan ekonomi Indonesia 6 persen pada 2026 kembali mencuat ke publik. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut angka tersebut masih realistis. Keyakinan itu setelah mulai menggerakkan kebijakan fiskal sejak September.
Pemerintah menggelontorkan dana negara ke bank BUMN lebih dari Rp200 triliun. Ia juga menyiapkan berbagai insentif fiskal untuk mendorong konsumsi dan investasi. Sinkronisasi fiskal dan moneter mulai terbentuk.
Ia menargetkan iklim investasi semakin kondusif sepanjang 2026. Asumsi resmi pemerintah masih berada di level 5,4 persen. Namun, ia menilai peluang menembus 6 persen tetap terbuka. Optimisme tersebut dalam konferensi pers APBN Kita. Sejumlah ekonom merespons target itu dengan sikap hati-hati.
Peneliti INDEF, Riza A Pujarama, menilai tantangan global masih berat. Ia menyoroti ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia.
Riza juga menilai mesin pertumbuhan domestik belum bertransformasi optimal. “Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi,” kata Riza.
Sektor tersebut masih tertekan oleh harga pangan dan energi. Daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya hingga akhir 2025. Kondisi itu menyulitkan pertumbuhan 6 persen pada 2026.
Pandangan serupa datang dari peneliti IDEAS Muhammad Anwar. Ia melihat risiko global tetap tinggi sepanjang tahun depan. Dia menyoroti fragmentasi perdagangan dan tensi geopolitik global.
Ia juga menekankan masalah kualitas lapangan kerja domestik. Pertumbuhan ekonomi tinggi sering tidak sejalan dengan kenaikan upah riil.
Sektor penyerap tenaga kerja didominasi aktivitas bernilai tambah rendah. Kondisi itu membuat kesejahteraan tidak naik seiring pertumbuhan PDB. Untuk itu, target 6 persen berada di luar konsensus analis.
Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026 Versi Lembaga Global
Berbagai lembaga internasional memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh lebih moderat. Sebagian besar lembaga mematok kisaran 4,9 hingga 5,7 persen.
Dana Moneter Internasional memperkirakan pertumbuhan 4,9 persen pada 2026. IMF menilai ketahanan domestik masih menopang ekonomi nasional.
Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5 persen. Proyeksi tersebut didukung konsumsi rumah tangga dan investasi. Bank Dunia menyoroti peran Danantara dan reformasi investasi. Pelonggaran kebijakan moneter juga mendukung arus modal.
Asian Development Bank memprediksi pertumbuhan 5,1 persen pada 2026. ADB menilai stimulus fiskal dan moneter mendorong permintaan domestik.
Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen. BI melihat ekspor, belanja pemerintah, dan investasi terus membaik.
Bank Mandiri mematok pertumbuhan ekonomi 5,2 persen tahun depan. Konsumsi, investasi, dan belanja negara menjadi pendorong utama.
Ekonom menilai target 6 persen membutuhkan reformasi struktural agresif. Tanpa perbaikan produktivitas, target tersebut sulit tercapai.








