Jakarta (Lampost.co) — Pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan performa solid sepanjang 2025. Pada kuartal IV 2025, ekonomi nasional tumbuh 5,39 persen. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi dalam empat kuartal terakhir. Tren itu menegaskan daya tahan ekonomi Indonesia di tengah tekanan global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut kinerja ekonomi nasional berada pada jalur positif. Ia menilai angka tersebut lebih baik daripada banyak negara lain.
“Pertumbuhan ekonomi kuartal IV mencapai 5,39 persen dan secara tahunan berada di level 5,11 persen,” ujar Airlangga.
Airlangga menjelaskan pertumbuhan ekonomi terus membaik dari kuartal ke kuartal. Ia menegaskan capaian akhir 2025 menjadi puncak pertumbuhan tahunan.
“Kalau lihat per kuartal, trennya terus naik dan ini yang tertinggi,” katanya.
Ia menyebut sektor industri pengolahan menjadi penopang utama. Sektor itu tumbuh 5,4 persen dan memberi kontribusi besar terhadap PDB.
Selain industri, sektor perdagangan dan pertanian juga mencatat pertumbuhan kuat. Ketiga sektor tersebut menopang lebih dari 40 persen struktur ekonomi nasional.
Airlangga menilai konsumsi masyarakat tetap terjaga. Kondisi itu memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional. “Ini menandakan struktur ekonomi cukup kuat,” ucapnya.
Ekonomi Indonesia Menguat
Data Badan Pusat Statistik memperkuat pernyataan tersebut. BPS mencatat pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 mencapai 5,39 persen secara tahunan.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan nilai PDB kuartal IV 2025 mencapai Rp 6.147,2 triliun atas dasar harga berlaku. Nilai harga konstan tercatat Rp 3.474,5 triliun.
“Pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 mencapai 5,39 persen secara year on year,” kata Amalia.
Sepanjang 2025, PDB Indonesia tercatat Rp 23.821,1 triliun atas dasar harga berlaku. Sementara itu, harga konstan mencapai Rp 13.580,5 triliun. “Secara kumulatif, ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen sepanjang 2025,” ujarnya.
Amalia menyebut capaian kuartal IV 2025 sebagai yang tertinggi sejak pandemi. Ia menilai momentum pemulihan ekonomi terus menguat.
BPS mencatat hampir seluruh lapangan usaha tumbuh positif. Sektor pertambangan menjadi satu-satunya yang mengalami kontraksi.
Lima sektor utama mendominasi kontribusi PDB. Sektor tersebut meliputi industri pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan pertambangan. “Kelima sektor itu menyumbang 63,09 persen PDB,” jelas Amalia.
BPS juga mencatat sektor transportasi dan pergudangan tumbuh tinggi. Lonjakan mobilitas masyarakat selama libur akhir tahun menjadi pendorong utama.
Sektor informasi dan komunikasi tumbuh 8,09 persen. Kenaikan itu seiring peningkatan trafik data dan aktivitas digital masyarakat.
Amalia menegaskan industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar. “Sektor ini menyumbang 1,10 basis poin terhadap pertumbuhan ekonomi,” ujar dia.








