Bandar Lampung (Lampost.co) – Kondisi lapangan kerja yang belum membaik membuat penghasilan sekecil apa pun tetap berarti. Banyak pekerja memilih bertahan meski upah rendah demi memenuhi kebutuhan hidup.
Situasi itu dirasakan Ulan, karyawan toko pakaian di kawasan Tanjungkarang. Ia bekerja hampir empat tahun tanpa perubahan berarti pada penghasilannya.
“Sering lamar pekerjaan di tempat lain, beberapa kali daftar di bank juga karena sesuai sama jurusan saya, tapi belum ada panggilan lagi,” ujarnya, Rabu, 28 Januari 2026.
Ulan mengaku menerima upah di bawah Rp2 juta per bulan. Ia tetap bertahan karena kebutuhan hidup terus berjalan dan belum menemukan pekerjaan pengganti.
Ia juga menyebut suasana kerja dan rekan kerja menjadi alasan tambahan. Faktor kenyamanan membuatnya menunda keputusan untuk pergi.
“Sebenernya mau ada kerjaan sampingan karena jujur gak bisa nabung karena gajinya segitu. Apalagi banyak kebutuhan juga sehari-hari,” katanya.
Jam kerja yang panjang membuat rencana mencari penghasilan tambahan sulit terwujud. Ulan bekerja dari pukul 09.00 hingga lewat 21.00 setiap hari. “Tapi belum bisa nyari juga karena kan jam kerjanya dari jam 9 pagi sampe jam 9 malem,” ujarnya.
Kondisi serupa juga dialami Dila, karyawan toko roti yang bekerja hampir tiga tahun. Ia memulai pekerjaannya dengan gaji sangat minim. “Waktu training dulu gajinya Rp800 ribu, sekarang gajinya sebulan Rp1,5 juta,” ujarnya.
Dila mengaku beberapa kali mengirim lamaran kerja ke tempat lain. Namun, ia belum menerima kabar baik hingga kini.
Ia memilih bertahan demi membantu kebutuhan keluarga, terutama orang tuanya. Meski rasa jenuh muncul, ia tidak punya pilihan lain.
“Sebenernya juga tetep bekerja karena butuh buat memenuhi kebutuhan bantu orang tua juga,” katanya.
Ia mengakui sudah tidak betah bekerja. Namun, kondisi pasar kerja membuatnya bertahan. “Sebenernya udah gak betah kerja tapi di betah-betahin, karena belum ada pengganti kerjaan yang lain juga,” ujarnya.
Restu Amalia








