HP Wajib Baterai Lepas Pasang Mulai 2027, ini Dampaknya bagi Industri

Langkah tersebut tidak hanya berdampak di Eropa. Sistem produksi global membuat perubahan desain itu akan ikut memengaruhi pasar di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Editor Effran
Jumat, 24 April 2026 14.36 WIB
HP Wajib Baterai Lepas Pasang Mulai 2027, ini Dampaknya bagi Industri

Jakarta (Lampost.co) — Kebijakan baru dari Uni Eropa akan mengubah arah industri smartphone dunia. Mulai 2027, produsen HP wajib menghadirkan baterai yang bisa lepas dan pasang ulang di pengguna.

Regulasi itu muncul sebagai bagian dari gerakan “Right to Repair” yang dapat memperpanjang umur perangkat. Selain itu, kebijakan tersebut juga menekan limbah elektronik yang terus meningkat setiap tahun.

Langkah tersebut tidak hanya berdampak di Eropa. Sistem produksi global membuat perubahan desain itu akan ikut memengaruhi pasar di berbagai negara, termasuk Indonesia.

 Bukan Sekadar Desain Lama, ini Aturan Teknisnya

Aturan itu tidak berarti smartphone akan kembali seperti model lama dengan casing terbuka. Regulasi lebih fokus pada kemudahan penggantian baterai tanpa alat khusus.

Produsen tetap boleh menggunakan sekrup atau pengunci tertentu. Namun, mereka wajib menyertakan alat pembuka dalam paket penjualan.

Pendekatan itu membuat pengguna tetap bisa mengganti baterai sendiri tanpa harus ke pusat servis. Hal itu untuk menekan biaya perawatan perangkat dalam jangka panjang.

 Dampak ke Produsen Besar dan Inovasi Teknologi

Perubahan itu memaksa produsen besar seperti Apple untuk menyesuaikan desain produk mereka. Selama ini, tren baterai tanam menjadi standar karena desain lebih tipis dan tahan air. Namun, aturan baru akan menyeimbangkan antara desain dan kemudahan perbaikan.

Meski begitu, ada pengecualian dalam regulasi itu. Perangkat dengan daya tahan baterai tinggi bisa terbebas dari kewajiban tersebut.

Sebagai contoh, seri iPhone 15 diklaim mampu mempertahankan 80 persen kapasitas setelah 1.000 siklus pengisian. Hal itu membuka peluang bagi produsen untuk tetap mempertahankan desain lama.

Sementara banyak pengguna menyambut baik aturan itu. Mereka menilai baterai sering menjadi komponen pertama yang rusak pada smartphone.

Baterai yang bisa diganti sendiri membuat pengguna tidak perlu membeli perangkat baru saat performa menurun. Diskusi di berbagai forum teknologi menunjukkan dukungan kuat terhadap kebijakan itu. Konsumen melihatnya sebagai langkah nyata yang berpihak pada pengguna.

 Perangkat Masa Depan Mulai Beradaptasi

Perangkat generasi baru rencananya mulai mengikuti aturan itu. Bahkan rumor menyebut Nintendo Switch 2 juga mempertimbangkan desain baterai yang lebih mudah diganti.

Selain itu, smartphone generasi mendatang seperti Samsung Galaxy S27 berpotensi menjadi perangkat awal yang mematuhi aturan tersebut.

Transformasi itu menunjukkan industri teknologi mulai bergerak ke arah yang lebih berkelanjutan dan ramah pengguna.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI