Bandar Lampung (Lampost.co) — Cuaca panas yang menyelimuti Kota Bandar Lampung seolah menemukan lawannya. Di sepanjang jalan protokol yang ramai kendaraan, di persimpangan lampu merah, hingga menyusup ke gang-gang kecil kawasan permukiman. Gelas-gelas plastik berisi jeruk peras segar tampak berjejer rapi di atas meja sederhana.
Fenomena penjual jeruk peras segar kini menjamur dan menjadi pemandangan sehari-hari bagi warga kota.
Tak sulit menemukan lapak jeruk peras di Bandar Lampung. Dari Jalan Teuku Umar, Jalan Zainal Abidin Pagar Alam, hingga kawasan padat penduduk. Para penjual memanfaatkan ruang sekecil apa pun untuk berjualan.
Ada yang menggunakan gerobak dorong, meja lipat, bahkan teras rumah sendiri.
Meski sederhana, keberadaan mereka selalu menarik perhatian, terutama saat terik matahari mulai menyengat.
Minuman jeruk peras segar ini menjadi primadona karena satu hal utama, yakni harga yang ramah di kantong.
Dengan banderol Rp5 ribu per gelas, siapa pun bisa menikmati minuman segar pelepas dahaga ini. Tak heran jika pengendara motor yang berhenti sejenak, sopir angkutan umum, pekerja kantoran, hingga pelajar, memilih menepi hanya untuk menikmati jeruk peras dingin.
Selain murah, jeruk peras juga dianggap sebagai alternatif minuman yang lebih alami. Tanpa bahan pengawet dan dibuat langsung di depan mata pembeli, minuman ini menawarkan rasa segar sekaligus kesan sehat.
Sensasi asam-manis jeruk yang dipadukan dengan es batu menjadi kombinasi sederhana yang ampuh mengusir panas dan dahaga.
Sejak Siang
Di balik lapak kecil itu, tersimpan cerita perjuangan para penjual. Annisa (27), salah satunya. Setiap hari ia mulai berjualan sejak siang hingga sore di salah satu ruas jalan yang ramai kendaraan.
Tangannya lincah memeras jeruk demi jeruk, sementara matanya sesekali memantau lalu lintas dan calon pembeli yang melintas.
“Kalau cuaca panas, Alhamdulillah ramai. Dalam sehari bisa dapat Rp300 ribu sampai Rp500 ribu. Tapi semuanya tergantung cuaca. Kalau hujan biasanya sepi,” kata Annisa sambil tersenyum.
Bagi Annisa, berjualan jeruk peras bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga cara bertahan di tengah kondisi ekonomi yang menuntut kreativitas. Modal yang relatif kecil dan bahan baku yang mudah didapat membuat usaha ini cukup menjanjikan.
Ia pun berusaha menjaga kualitas dengan memeras jeruk langsung saat ada pesanan.
“Pembeli sekarang pintar. Mereka suka yang benar-benar segar dan diperas langsung. Kalau rasanya enak, biasanya balik lagi,” ujarnya.
Cerita serupa datang dari Alam (30), penjual jeruk peras yang membuka lapak di kawasan permukiman. Menurutnya, melimpahnya perkebunan jeruk di Lampung menjadi berkah tersendiri bagi para pelaku usaha kecil seperti dirinya.
“Di Lampung ini jeruk gampang sekali dicari. Banyak kebun jeruk, jadi bahan baku tidak susah dan harganya relatif murah. Itu yang bikin kami bisa jual Rp5 ribu pakai gula, dan Rp10 ribu kalau tanpa gula, murni jeruk,” jelas Alam.
Perkebunan Jeruk
Berlimpahnya jeruk di Lampung memang bukan cerita baru. Sejumlah daerah seperti Natar di Lampung Selatan, Lampung Timur, Metro, hingga Pesawaran dikenal sebagai sentra perkebunan jeruk. Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian kebun bahkan berkembang menjadi destinasi wisata, menawarkan pengalaman petik jeruk langsung dari pohonnya.
Keberadaan kebun-kebun jeruk ini menciptakan mata rantai ekonomi yang panjang. Hasil panen tak hanya masuk ke pasar tradisional, tetapi juga mengalir ke kota-kota dalam bentuk usaha minuman segar. Dari petani, pengepul, hingga penjual jeruk peras di pinggir jalan, semua ikut merasakan manfaatnya.
Fenomena menjamurnya penjual jeruk peras segar juga mencerminkan dinamika ekonomi perkotaan. Di tengah persaingan kerja yang ketat, masyarakat memanfaatkan potensi lokal untuk menciptakan peluang usaha mandiri.
Tanpa perlu etalase mewah atau promosi besar-besaran, cukup dengan rasa segar dan harga terjangkau, jeruk peras mampu menarik pelanggan setia.
Sore hari menjadi waktu tersibuk bagi para penjual. Saat arus pulang kerja mulai padat, lapak jeruk peras tak pernah sepi pembeli. Gelas demi gelas berpindah tangan, disertai senyum penjual dan ucapan terima kasih sederhana. Di tengah hiruk pikuk kota, momen kecil ini menghadirkan suasana akrab antara penjual dan pembeli.
Lebih dari sekadar minuman, jeruk peras Rp5 ribu telah menjadi bagian dari denyut kehidupan Kota Bandar Lampung. Ia hadir sebagai simbol kesederhanaan, kreativitas, dan ketangguhan ekonomi rakyat.
Dari gang sempit hingga jalan besar, dari kebun jeruk hingga pinggir jalan kota, kesegaran itu terus mengalir menyegarkan dahaga sekaligus menghidupi banyak keluarga.







