Bandar Lampung (Lampost.co) — Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Lampung terus menunjukkan tren peningkatan. Data Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Lampung mencatat kunjungan wisatawan domestik mencapai 15 juta orang hingga Juli 2025.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, mengatakan jumlah tersebut bisa menembus 25 juta wisatawan hingga akhir 2025. Pihaknya kini sedang berupaya memastikan geliat pariwisata berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat melalui integrasi sektor pariwisata dengan UMKM.
“Ke depan, kami akan memastikan agar sektor pariwisata dan UMKM terintegrasi. Tempat wisata, hotel, restoran, dan toko oleh-oleh kami dorong agar memprioritaskan produk-produk lokal Lampung. Wisatawan datang membawa uang dan itu harus belanja produk-produk lokal,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan kunjungan wisata juga perlu ada kebijakan yang berpihak kepada pelaku usaha lokal. Sehingga, manfaat ekonomi tidak hanya berhenti di sektor jasa wisata, tetapi juga terasa di para pelaku UMKM di sekitar destinasi.
Mirza menilai, integrasi antara pariwisata dan UMKM menjadi strategi cepat dalam memperkuat perekonomian daerah. “Strategi paling cepat untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Lampung adalah dengan menggerakkan UMKM, salah satunya dengan mengintegrasikannya dengan sektor pariwisata,” jelasnya.
Ia menambahkan, Pemprov Lampung terus mendorong kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, lembaga keuangan, dan pelaku usaha. Sinergi itu dapat memperkuat sistem ekonomi daerah serta menarik minat investor untuk menanamkan modalnya di Lampung.
Untuk itu, pihaknya akan memperkenalkan sejumlah proyek investasi strategis di sektor pariwisata pada forum Lampung Economic Investment Forum. Salah satu yang menjadi sorotan adalah Bakauheni Harbour City, proyek pariwisata terpadu seluas 160 hektare dengan target nilai investasi Rp4,7 triliun.
Selain itu, terdapat proyek Kawasan Kota Baru dengan target investasi Rp2,9 triliun di atas lahan 1.306 hektare. Lalu Bandar Lampung Agripark seluas 4,4 hektare dengan target nilai investasi Rp20,6 miliar yang menawarkan potensi pengembangan hotel, restoran, coffee shop, hingga area rekreasi keluarga.








