• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Iklan
  • Tentang Kami
  • E-Paper
Rabu, 21/01/2026 02:23
  • BERANDA
  • BOLA
  • TEKNOLOGI
  • EKONOMI BISNIS
    • BANK INDONESIA LAMPUNG
    • BANK SYARIAH INDONESIA
    • BANK LAMPUNG
    • OTOMOTIF
  • PENDIDIKAN
    • UNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
    • UNILA
    • UIN LAMPUNG
    • U B L
    • S T I A B
  • KOLOM
    • OPINI
    • REFLEKSI
    • NUANSA
    • TAJUK
    • FORUM GURU
  • LAMPUNG
    • BANDARLAMPUNG
    • PEMKOT BANDARLAMPUNG
    • PEMPROV LAMPUNG
    • TULANG BAWANG BARAT
    • LAMPUNG BARAT
    • LAMPUNG TIMUR
  • IKLAN PENGUMUMAN
  • VIDEO
    • Breaking News
    • Bedah Tajuk
    • Economic Corner
    • Podcast
  • INDEKS
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BOLA
  • TEKNOLOGI
  • EKONOMI BISNIS
    • BANK INDONESIA LAMPUNG
    • BANK SYARIAH INDONESIA
    • BANK LAMPUNG
    • OTOMOTIF
  • PENDIDIKAN
    • UNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
    • UNILA
    • UIN LAMPUNG
    • U B L
    • S T I A B
  • KOLOM
    • OPINI
    • REFLEKSI
    • NUANSA
    • TAJUK
    • FORUM GURU
  • LAMPUNG
    • BANDARLAMPUNG
    • PEMKOT BANDARLAMPUNG
    • PEMPROV LAMPUNG
    • TULANG BAWANG BARAT
    • LAMPUNG BARAT
    • LAMPUNG TIMUR
  • IKLAN PENGUMUMAN
  • VIDEO
    • Breaking News
    • Bedah Tajuk
    • Economic Corner
    • Podcast
  • INDEKS
No Result
View All Result
Home Ekonomi dan Bisnis

Keluhan Pedagang Akibat Gempuran Marketplace

Aktivitas jual beli di pasar tersebut terus menurun seiring pergeseran konsumen ke platform digital.

EffranbyEffran
21/01/26 - 00:30
in Ekonomi dan Bisnis
A A
Suasana pedagang di Pasar Bambukuning, Bandar Lampung, Selasa, 20 Januari 2026. Lampost.co/Restu Amalia

Suasana pedagang di Pasar Bambukuning, Bandar Lampung, Selasa, 20 Januari 2026. Lampost.co/Restu Amalia

Bandar Lampung (Lampost.co) — Bandar Lampung memasuki fase perubahan besar dalam pola perdagangan. Pasar Bambukuning, salah satu pusat niaga legendaris kini menghadapi tekanan berat akibat masifnya belanja online. Aktivitas jual beli di pasar tersebut terus menurun seiring pergeseran konsumen ke platform digital.

Jupri, pedagang sprei sejak 1971, merasakan dampak paling nyata. Ia mengaku omzet tokonya turun drastis dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, pembeli kini jarang datang langsung ke pasar karena lebih memilih berbelanja melalui marketplace.

Kondisi Pasar Bambukuning semakin memprihatinkan. Dari seluruh kios yang ada, hanya sekitar 70 persen masih bertahan. Sisanya tutup karena pedagang tidak sanggup membayar biaya sewa. Kios milik pribadi masih beroperasi, tetapi kios kontrakan nyaris tidak ada peminat.

Ia membandingkan kondisi saat ini dengan masa lalu. Dulu, sewa kios di Pasar Bambukuning bisa mencapai Rp50 juta hingga Rp60 juta per tahun.

“Harga sewa Rp10 juta pun sulit menarik minat pedagang. Bambukuning bisa saja kosong dalam beberapa tahun ke depan,” kata jupri.

Dia mengaku tidak mampu mengikuti tren penjualan online. Faktor usia menjadi kendala utama. Ia tidak terbiasa menggunakan ponsel pintar dan teknologi digital, sehingga kesulitan beradaptasi dengan sistem perdagangan modern.

Pedagang Bambukuning Tersisa Kurang 100

Senada, Slamet, pedagang pakaian yang berjualan sejak era Presiden Soeharto, menyebut jumlah konsumen yang datang langsung ke toko terus berkurang. Dia menilai situasi ekonomi nasional yang melemah turut memperparah kondisi pasar tradisional.

Menurut dia, dari sekitar 400 toko yang tersedia di gedung Pasar Bambukuning, jumlah yang masih beroperasi tidak mencapai 100 toko. Banyak pedagang terpaksa menutup usaha karena tidak mampu menutup biaya operasional.

Namun, Slamet memilih bertahan dengan memanfaatkan marketplace sebagai saluran penjualan utama. Para pedagang menilai tekanan yang mereka hadapi bukan lagi persoalan internal pasar.

“Perubahan sistem perdagangan digital datang dari arah kebijakan dan perkembangan zaman karena menyadari perdagangan online tidak mungkin berhenti,” kata dia.

Para pedagang khawatir Pasar Bambu Kuning akan kehilangan fungsinya jika tidak ada solusi konkret. Sepinya pengunjung berisiko mematikan roda ekonomi kawasan tersebut.

Denyut ekonomi lokal yang selama puluhan tahun hidup di Bambu Kuning bisa menghilang secara perlahan jika pasar terus konsumen tinggalkan.

Tags: belanja onlinedampak marketplaceomzet pedagang turunPasar Bambu Kuningpasar tradisional Lampungpedagang pasar tradisionalperdagangan digital
ShareSendShareTweet
ADVERTISEMENT

Berita Lainnya

BPS Catat Nilai Tukar Petani Lampung Naik Jadi 130,15

byAtikaand1 others
20/01/2026

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Lampung pada Desember 2025 berada di...

Cadangan Beras Bulog Lampung Capai 168 Ribu Ton

byAtika
20/01/2026

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Perum Bulog Kantor Wilayah Lampung mencatat stok beras yang pihaknya kelola hingga akhir 2025 mencapai 168.000...

Bulog Lampung Serap 202,5 Ribu Ton Gabah Petani pada 2025

Bulog Lampung Serap 202,5 Ribu Ton Gabah Petani pada 2025

byAtikaand1 others
20/01/2026

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Perum Bulog Kantor Wilayah Lampung mencatat realisasi penyerapan gabah petani setara beras sepanjang 2025 mencapai 202.564...

Berita Terbaru

Pelatih Inter Milan, Cristian Chivu
Bola

Klasemen Liga Italia, Inter Memimpin, Milan dan Napoli Membuntuti

byIsnovan Djamaludinand1 others
21/01/2026

Jakarta (Lampost.co)—Gol tunggal Lautaro Martinez di Stadion Bluenergy, Sabtu (17/1/2026), membuat Inter Milan menjaga takhta puncak klasemen Liga Italia 2025/2026....

Read moreDetails
Asprov PSSI Lampung gelar liga 4

Asprov PSSI Lampung segera Gelar Liga IV

21/01/2026
Suasana pedagang di Pasar Bambukuning, Bandar Lampung, Selasa, 20 Januari 2026. Lampost.co/Restu Amalia

Keluhan Pedagang Akibat Gempuran Marketplace

21/01/2026
Tim SAR gabungan mengevakuasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Selasa (20/1/2026) malam. ANTARA/

Dua Jenazah Korban ATR Berhasil Dievakuasi dari Bulusaraung

20/01/2026
Ilustrasi (ANT)

Basarnas Pastikan Sinyal Langkah Kaki di Smartwatch Kopilot Hanyalah Rekaman Lama

20/01/2026
Facebook Instagram Youtube TikTok Twitter

Affiliated with:

Informasi

Alamat 
Jl. Soekarno – Hatta No.108, Hajimena, Lampung Selatan

Email

redaksi@lampost.co

Telpon
(0721) 783693 (hunting), 773888 (redaksi)

Sitemap

Beranda
Tentang Kami
Redaksi
Compro
Iklan
Microsite
Rss
Pedoman Media Siber

Copyright © 2024. Lampost.co - Media Group, All Right Reserved.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BOLA
  • TEKNOLOGI
  • EKONOMI BISNIS
    • BANK INDONESIA LAMPUNG
    • BANK SYARIAH INDONESIA
    • BANK LAMPUNG
    • OTOMOTIF
  • PENDIDIKAN
    • UNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
    • UNILA
    • UIN LAMPUNG
    • U B L
    • S T I A B
  • KOLOM
    • OPINI
    • REFLEKSI
    • NUANSA
    • TAJUK
    • FORUM GURU
  • LAMPUNG
    • BANDARLAMPUNG
    • PEMKOT BANDARLAMPUNG
    • PEMPROV LAMPUNG
    • TULANG BAWANG BARAT
    • LAMPUNG BARAT
    • LAMPUNG TIMUR
  • IKLAN PENGUMUMAN
  • VIDEO
    • Breaking News
    • Bedah Tajuk
    • Economic Corner
    • Podcast
  • INDEKS

Copyright © 2024. Lampost.co - Media Group, All Right Reserved.