Bandar Lampung (Lampost.co) — Bandar Lampung memasuki fase perubahan besar dalam pola perdagangan. Pasar Bambukuning, salah satu pusat niaga legendaris kini menghadapi tekanan berat akibat masifnya belanja online. Aktivitas jual beli di pasar tersebut terus menurun seiring pergeseran konsumen ke platform digital.
Jupri, pedagang sprei sejak 1971, merasakan dampak paling nyata. Ia mengaku omzet tokonya turun drastis dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, pembeli kini jarang datang langsung ke pasar karena lebih memilih berbelanja melalui marketplace.
Kondisi Pasar Bambukuning semakin memprihatinkan. Dari seluruh kios yang ada, hanya sekitar 70 persen masih bertahan. Sisanya tutup karena pedagang tidak sanggup membayar biaya sewa. Kios milik pribadi masih beroperasi, tetapi kios kontrakan nyaris tidak ada peminat.
Ia membandingkan kondisi saat ini dengan masa lalu. Dulu, sewa kios di Pasar Bambukuning bisa mencapai Rp50 juta hingga Rp60 juta per tahun.
“Harga sewa Rp10 juta pun sulit menarik minat pedagang. Bambukuning bisa saja kosong dalam beberapa tahun ke depan,” kata jupri.
Dia mengaku tidak mampu mengikuti tren penjualan online. Faktor usia menjadi kendala utama. Ia tidak terbiasa menggunakan ponsel pintar dan teknologi digital, sehingga kesulitan beradaptasi dengan sistem perdagangan modern.
Pedagang Bambukuning Tersisa Kurang 100
Senada, Slamet, pedagang pakaian yang berjualan sejak era Presiden Soeharto, menyebut jumlah konsumen yang datang langsung ke toko terus berkurang. Dia menilai situasi ekonomi nasional yang melemah turut memperparah kondisi pasar tradisional.
Menurut dia, dari sekitar 400 toko yang tersedia di gedung Pasar Bambukuning, jumlah yang masih beroperasi tidak mencapai 100 toko. Banyak pedagang terpaksa menutup usaha karena tidak mampu menutup biaya operasional.
Namun, Slamet memilih bertahan dengan memanfaatkan marketplace sebagai saluran penjualan utama. Para pedagang menilai tekanan yang mereka hadapi bukan lagi persoalan internal pasar.
“Perubahan sistem perdagangan digital datang dari arah kebijakan dan perkembangan zaman karena menyadari perdagangan online tidak mungkin berhenti,” kata dia.
Para pedagang khawatir Pasar Bambu Kuning akan kehilangan fungsinya jika tidak ada solusi konkret. Sepinya pengunjung berisiko mematikan roda ekonomi kawasan tersebut.
Denyut ekonomi lokal yang selama puluhan tahun hidup di Bambu Kuning bisa menghilang secara perlahan jika pasar terus konsumen tinggalkan.






