Jakarta (Lampost.co— Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sedang mempersiapkan beberapa opsi untuk menyelamatkan PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) dari status pailit yang telah ditetapkan oleh Pengadilan Negeri (PN) Semarang.
Plt Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT), Reni Yanita, menyatakan bahwa opsi-opsi penyelamatan perlu di diskusikan lebih lanjut bersama Sritex.
Serta tiga kementerian terkait lainnya, yaitu Kementerian Keuangan, Kementerian BUMN, dan Kementerian Tenaga Kerja. “Salah satu opsi pertimbangannya adalah pemberian dana talangan atau insentif untuk mendukung perusahaan,” ujar Reni.
Baca juga: 9 Pabrik Tekstil di Indonesia yang Bangkrut pada 2024 dan Terancam Terimbas Sritex
Reni menjelaskan bahwa tujuan utama dalam upaya penyelamatan ini adalah melindungi tenaga kerja dan mempertahankan ekspor Sritex.
Meski dinyatakan pailit, operasional Sritex masih berjalan, sehingga perusahaan masih bertanggung jawab untuk menyelesaikan kontrak-kontraknya.
“Kita yang pasti sih menyelamatkan terkait dengan tenaga kerjanya, kalau bisa kita tetap upayakan. Apalagi begitu Pak Iwan (Komisaris Utama Sritex) bilang, pabriknya tuh tetap beroperasi,” ucap Reni.
Menurut Komisaris Utama Sritex, Iwan S Lukminto, tingkat utilitas produksi Sritex mencapai 65 persen, dan pabrik tetap beroperasi.
Reni menegaskan bahwa pemerintah memiliki kewajiban untuk menyelamatkan perusahaan demi melindungi tenaga kerja.
Selain itu, langkah penyelamatan ini tidak hanya berlaku untuk Sritex, tetapi juga menjadi dasar bagi kebijakan pemerintah ke depan. Agar kasus serupa tidak menimpa industri lainnya, terutama industri tekstil di Indonesia.
Pita Hitam
Sebelumnya, para karyawan PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) di Sukoharjo, Jawa Tengah, mengenakan pita hitam di lengan kiri mereka dengan tulisan “Selamatkan SRITEX” setelah perusahaan di nyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri Niaga Semarang.
General Manager HRD Sritex Group, Haryo Ngadiyono, menjelaskan bahwa pita hitam ini bukan simbol kesedihan, melainkan semangat kebangkitan.
Menurut Haryo, pita hitam melambangkan energi kolektif seluruh keluarga besar Sritex untuk memperjuangkan masa depan yang lebih baik. Sritex, yang selama ini mereka anggap sebagai “rumah” bagi ratusan ribu keluarga, telah memberikan kehidupan dan kebanggaan bagi bangsa.