Bandar Lampung (Lampost.co) — Perkembangan teknologi digital terus mengubah pola belanja masyarakat. Akses internet yang mudah membuat belanja online semakin warga minati. Masyarakat kini memenuhi kebutuhan tanpa harus datang ke pasar atau toko fisik.
Perubahan itu memberi dampak langsung pada pasar dan toko konvensional. Banyak pedagang mulai kehilangan pengunjung. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap keberlangsungan usaha tradisional.
Pengamat ekonomi, Asrian Hendi Caya, menilai belanja online menawarkan banyak keuntungan praktis. Sebab, kemudahan menjadi faktor utama pergeseran perilaku konsumen.
Belanja online membantu masyarakat menghemat waktu dan tenaga. Konsumen tidak perlu keluar rumah atau terjebak kemacetan. Aktivitas itu juga mengurangi kebutuhan parkir dan kepadatan jalan. “Aspek kemudahan membuat kecenderungan belanja masyarakat terus meningkat,” ujar Asrian.
Ia juga menilai belanja online mendorong lahirnya usaha baru. Pelaku usaha tidak perlu membuka toko atau showroom. Mereka bisa menjalankan bisnis langsung dari rumah.
Perubahan pola belanja itu berdampak besar pada pedagang konvensional. Banyak pasar terlihat lebih sepi daripada sebelumnya. Penurunan pengunjung berpotensi menekan omzet pedagang.
Keberlanjutan usaha pun terancam jika kondisi itu berlanjut. Pedagang perlu mengambil langkah adaptif agar tetap bertahan. Inisiatif menjadi kunci menghadapi perubahan.
Asrian menyarankan pedagang mendekati kawasan pemukiman. Strategi itu cocok untuk kebutuhan harian dan kuliner. Pedagang juga bisa memanfaatkan layanan online untuk pelanggan setia. “Pedagang harus merespons perubahan dengan cara yang relevan,” katanya.
Ia menekankan peran pemerintah dalam proses adaptasi itu. Pemerintah perlu memfasilitasi pedagang agar melek teknologi. Dukungan itu penting bagi usaha mikro dan kecil.
Digitalisasi bisa membuat UMKM menjangkau pasar lebih luas. Penjualan online membantu mempertahankan usaha di tengah persaingan. Pendampingan menjadi faktor pendukung utama.
Dia juga menyoroti peran Apindo Lampung. Organisasi itu berkolaborasi dengan perguruan tinggi. Program Kampus Merdeka menjadi sarana penguatan UMKM.
Mahasiswa terlibat langsung mendampingi pelaku usaha. Mereka membantu administrasi keuangan digital. Mahasiswa juga mendukung pemasaran digital dan perencanaan bisnis. “Program itu cukup efektif untuk meningkatkan pemasaran UMKM,” ujarnya.
Kolaborasi lintas sektor menjadi solusi jangka panjang. Pelaku usaha, pemerintah, dan dunia pendidikan perlu bergerak bersama. Tujuannya menjaga relevansi pedagang konvensional.








