Jakarta (Lampost.co) — PT Agrinas Pangan Nusantara melanjutkan rencana impor 105.000 unit kendaraan niaga (pikap) dari India untuk mendukung operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Kebijakan itu memicu sorotan karena datang di tengah penjualan pickup lokal yang sedang melemah.
Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, memastikan pengadaan kendaraan berjalan sesuai kebutuhan program desa.
“Ratusan ribu pickup itu untuk Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Impor itu untuk mendukung program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di seluruh Indonesia,” ujarnya di Jakarta.
Agrinas akan mendatangkan 35.000 unit Mahindra Scorpio Pikap. Selain itu, perusahaan memesan 70.000 unit dari Tata Motors India. Jumlah tersebut terdiri dari 35.000 unit Tata Yodha Pick Up dan 35.000 unit Ultra T.7 Light Truck.
Manajemen menilai kendaraan tersebut sesuai dengan kebutuhan distribusi desa. Armada itu akan mengangkut hasil pertanian dan kebutuhan pokok ke berbagai wilayah.
Namun, rencana impor itu kontras dengan kondisi pasar otomotif nasional. Data wholesales 2025 menunjukkan distribusi pickup lokal hanya mencapai 107.008 unit. Angka tersebut setara dengan 13,3 persen dari total pasar otomotif nasional.
Sementara itu, data retail sales mencatat penjualan 110.574 unit. Jumlah tersebut hanya sedikit lebih tinggi dari distribusi pabrik ke dealer.
Rencana impor 105.000 unit hampir menyamai total penjualan retail pickup nasional. Fakta itu memicu pertanyaan mengenai dampaknya terhadap industri dalam negeri.
Dua tahun sebelumnya, pasar pickup sempat menunjukkan tren positif. Pada 2023, wholesales mencapai 116.986 unit dan retail menembus 124.052 unit. Namun, grafik penjualan terus menurun hingga 2025.
Dampak di Industri Nasional
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, menyoroti kontrak pengadaan kendaraan senilai Rp 24,66 triliun. Kontrak tersebut mencakup 105.000 unit kendaraan dari dua produsen India.
Menurut Evita, nilai proyek tersebut membawa dampak strategis bagi industri nasional. Ia menilai kebijakan itu tidak hanya menyangkut distribusi pangan desa.
Di sisi lain, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyatakan anggotanya memiliki kapasitas produksi pickup lebih dari 400.000 unit per tahun. Kapasitas tersebut belum termanfaatkan secara optimal.
Produsen dalam negeri memproduksi kendaraan 4×2 dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri di atas 40 persen. Jaringan servis dan layanan purna jual juga telah tersebar luas.
Gaikindo menyebut produsen lokal juga mampu memproduksi kendaraan 4×4. Namun, industri memerlukan waktu untuk persiapan lini produksinya.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan pentingnya penguatan produksi nasional. Ia menyampaikan pemenuhan 70.000 unit pickup 4×2 dari dalam negeri dapat menciptakan dampak ekonomi sekitar Rp 27 triliun.
Menurut Agus, produksi lokal akan mendorong industri ban, kaca, baterai, logam, plastik, kabel, hingga elektronik. Efek berantai tersebut akan memperkuat sektor manufaktur nasional.
“Apabila seluruh kebutuhan kendaraan pick-up melalui impor, maka nilai tambah ekonomi dan penyerapan tenaga kerja akan dinikmati industri di luar negeri. Namun, apabila kebutuhan tersebut dapat terpenuhi industri dalam negeri, maka manfaat ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan industri nasional juga akan dirasakan di dalam negeri,” ujar Agus.
Ia juga menegaskan industri otomotif nasional memiliki kapasitas produksi pickup sekitar 1 juta unit per tahun. Produsen seperti PT Astra Daihatsu Motor, PT Isuzu Astra Motor Indonesia, PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia, PT Suzuki Indomobil Motor, PT SGMW Motor Indonesia, dan PT Sokonindo Automobile siap memenuhi kebutuhan pasar.
Atas kapasitas tersebut, industri nasional sebenarnya mampu menopang permintaan domestik. Polemik impor 105.000 pickup ini pun membuka diskusi besar tentang arah kebijakan industri dan keberpihakan pada produksi dalam negeri.








