Bandar Lampung (lampost.co)–Pemerintah Provinsi Lampung memperkuat ketersediaan pasokan pangan menjelang bulan suci Ramadhan. Langkah strategis ini bertujuan untuk menjaga konsumsi masyarakat serta mengendalikan stabilitas harga di pasar.
Staf Ahli Gubernur Lampung, Bani Ispriyanto, menjelaskan bahwa instruksi ini selaras dengan arahan Kementerian Dalam Negeri. Pemerintah daerah wajib melakukan antisipasi dini karena konsumsi masyarakat diprediksi melonjak mulai Februari mendatang.
“Pekan depan kami mulai mempersiapkan pasokan pangan untuk mengantisipasi peningkatan konsumsi saat Ramadan,” ujar Bani di Bandar Lampung, Kamis, 15 Januari 2026.
Guna menjamin ketersediaan barang, Pemprov Lampung menginstruksikan OPD terkait untuk menjalin kerja sama dengan sejumlah offtaker. Mitra penyedia ini akan fokus mengamankan stok bawang merah, bawang putih, hingga cabai merah.
Selain itu, pemerintah juga berkoordinasi dengan Pinsar Petelur dan para peternak lokal. Sinergi ini bertujuan memastikan ketersediaan telur serta daging ayam tetap aman di seluruh kabupaten dan kota.
Meskipun permintaan naik, Bani menegaskan bahwa pengendalian inflasi tetap menjadi prioritas utama. Saat ini, tingkat inflasi tahunan Lampung berada di angka 1,25 persen atau terendah kedua secara nasional.
“Penyumbang inflasi rata-rata berasal dari volatile food, namun saat ini harganya masih dalam rentang stabil,” ucapnya.
Turun Harga
Bahkan, beberapa komoditas seperti cabai dan bawang mulai menunjukkan tren penurunan harga di tingkat pedagang. Kondisi ini menjadi modal positif bagi pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat menjelang hari raya.
Selanjutnya, Pemprov Lampung akan menggelar gerakan pasar murah sebagai strategi tambahan menjaga keterjangkauan harga. Program ini diharapkan dapat menekan gejolak harga yang sering terjadi dalam siklus tiga tahun terakhir.
Bani berharap seluruh upaya ini mampu meredam spekulasi pasar selama masa Ramadan hingga Idulfitri. Pemerintah berkomitmen memastikan masyarakat dapat beribadah dengan tenang tanpa terbebani lonjakan harga pangan. (ANT)








