Bandar Lampung (Lampost.co) — Perkembangan teknologi digital terus mengubah wajah transportasi perkotaan. Layanan ojek online kini menjadi pilihan utama masyarakat karena praktis dan terjangkau. Di sisi lain, kehadiran layanan berbasis aplikasi menekan keberadaan ojek pangkalan secara signifikan.
Kondisi tersebut dirasakan langsung para pengemudi ojek pangkalan di Bandar Lampung. Mereka kehilangan penumpang dan mengalami penurunan penghasilan drastis sejak ojek online menjamur.
Ipul, pengemudi ojek pangkalan di kawasan Pesawahan, TelukBetung Selatan, mengaku perubahan terjadi sangat tajam. Ia puluhan tahun menggantungkan hidup dari ojek pangkalan.
“Perubahannya jelas terasa. Kalau dulu penumpang ramai, sekarang paling tersisa 20 persen saja,” kata Ipul, Kamis, 22 Januari 2026.
Menurut dia, jumlah penumpang terus menyusut setiap tahun. Banyak pelanggan lama kini beralih ke ojek online karena tarif lebih murah dan mudah akses.
Meski kondisi semakin sulit, Ipul memilih bertahan sebagai ojek pangkalan. Ia mengaku tidak memiliki kemampuan menggunakan ponsel pintar berbasis Android. “Saya nggak paham pakai HP Android. Jadi ya nggak kepikiran pindah ke ojek online,” ujarnya.
Nasib serupa dialami Deni, pengemudi ojek pangkalan sejak 2001. Ia menilai kehadiran ojek online membuat ojek pangkalan semakin terpinggirkan. “Sejak ada ojek online, kami seperti hancur. Kami terasa terasingkan,” kata Deni.
Dia menilai perbedaan tarif menjadi faktor utama peralihan penumpang. Ojek online menawarkan harga murah tanpa melihat jarak tempuh. “Kalau ojek online, mau jauh atau dekat tetap murah. Kami tergantung jarak. Kami nggak punya sistem pusat seperti mereka,” ucapnya.
Dampak ekonomi pun semakin terasa. Sebelum ojek online hadir, diamampu mengantongi Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per hari. Kini, penghasilan maksimalnya hanya sekitar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu.
Ia mengaku pernah tidak mendapatkan penumpang sama sekali selama empat hari berturut-turut. “Kadang empat hari nggak dapat penumpang. Nggak ada pemasukan sama sekali,” ujarnya.
Meski sempat tertarik saat ojek online pertama kali muncul, dia akhirnya mengurungkan niat. Ia merasa tidak memahami sistem perhitungan dan mekanisme aplikasinya. “Saya nggak ngerti hitung-hitungan persentasenya. Dulu sempat minat, tapi akhirnya saya jalani saja apa adanya,” katanya.
Para pengemudi ojek pangkalan kini berharap adanya perhatian serius dari pemerintah. Mereka menginginkan solusi yang adil agar bisa bertahan di tengah persaingan transportasi digital.
Selain bantuan ekonomi, mereka juga meminta perbaikan fasilitas pangkalan. Kondisi pangkalan yang layak penting untuk menarik kembali penumpang. “Kami cuma berharap ada kejelasan dan solusi. Biar semua pihak bisa jalan bareng,” kata dia.








