Tekanan pasar global melemahkan daya saing petambak udang Lampung sehingga pemerintah daerah perlu mengambil peran lebih kuat melalui dukungan kebijakan, teknologi, dan kolaborasi.
Bandar Lampung (Lampost.co) — Tekanan global kembali menguji daya tahan petambak udang Lampung. Namun, peluang kebangkitan sektor ini masih terbuka lebar.
Pengamat Ekonomi Asrian Hendicaya menekankan peran aktif pemerintah daerah untuk memperiorotaskan kebijakan terkait penguatan petambak udang. Lampung selama ini terkenal sebagai salah satu lumbung udang nasional. Karena itu, keberlanjutan sektor ini menentukan ekonomi daerah.
Asrian menilai udang Lampung memiliki potensi besar dan strategis mencakup aspek ekonomi dan ketahanan pangan. Selain menjadi produk ekspor unggulan, udang memiliki nilai gizi tinggi.
Komoditas udang juga dapat menyasar pasar potensial, seperti perhotelan dan jasa boga menjadi pasar potensial. Selain itu, udang mendukung program Makan Bergizi Gratis yang tengah Pemerintah Pusat dan daerah gencarkan.
Karena itu, perlu memperluas penyerapan udang di pasar domestik. “Udang Lampung berkualitas tinggi dan bernilai gizi besar,” ujar Asrian.
Menurutnya, pengelolaan tepat akan memberi dampak luas karena udang menopang ketahanan pangan nasional. Selain itu, sektor ini menggerakkan ekonomi daerah.
Namun, Asrian mengakui tantangan industri udang semakin kompleks. Kinerja ekspor udang Lampung kini menghadapi tekanan serius.
Berbagai faktor eksternal memengaruhi daya saing global. Salah satunya kebijakan tarif dari Amerika Serikat.
Selain itu, isu kontaminasi cesium-137 turut mempersempit pasar ekspor. Akibatnya, volume ekspor udang Lampung mengalami penurunan.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada petambak udang, terutama petambak dan menengah yang merasakan tekanan paling besar. Pemerintah daerah tidak bisa membiarkan hal tersebut berlarut dan harus hadir untuk melindungi petambak udang. “Petambak membutuhkan perhatian khusus agar tidak terpuruk,” ujarnya.
Asrian mendorong pemerintah memberi kemudahan akses permodalan. Selain itu, memperkuat pendampingan teknologi budi daya.
Peningkatan standar kualitas dan keamanan produk juga penting. Langkah tersebut meningkatkan kepercayaan pasar domestik dan global.
Selain kebijakan internal, perlu memperluas kolaborasi lintas sektor. Kerja sama dengan lembaga swasta dan instansi terkait menjadi kunci. Dengan kolaborasi, akses pasar kembali terbuka sehingga nilai tambah produk udang pun meningkat.
Asrian menegaskan pentingnya sinergi semua pihak, baik itu pemerintah, pelaku usaha, maupun akademisi. Sebab, kolaborasi menjadi fondasi kebangkitan industri udang dan dengan sinergi tepat, udang Lampung dapat kembali berjaya.
Kebangkitan sektor ini berdampak langsung bagi masyarakat. Kesejahteraan petambak udang meningkat dan ekonomi daerah menguat. Lampung pun dapat mempertahankan posisinya sebagai sentra udang nasional.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update