Rupiah Tertekan ke Rp17.529 per Dolar AS, Pasar Khawatir The Fed Tahan Suku Bunga Tinggi Lebih Lama

Editor Adi Sunaryo, Penulis Antaranews
Selasa, 12 Mei 2026 18.39 WIB
Rupiah Tertekan ke Rp17.529 per Dolar AS, Pasar Khawatir The Fed Tahan Suku Bunga Tinggi Lebih Lama
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar. Dok/Antara

Jakarta (Lampost.co) – Nilai tukar rupiah kembali melemah tajam pada penutupan perdagangan Selasa. Rupiah turun 115 poin atau 0,66 persen ke level Rp17.529 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.414 per dolar AS.

Analis Research & Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Tiffani Safinia, menilai tekanan terhadap rupiah dipicu ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Baca juga: Gen Z dan Milenial Penyumbang Terbesar Kredit Macet Pinjol

“Penguatan dolar AS masih dipicu ekspektasi suku bunga tinggi The Fed, meningkatnya permintaan aset safe haven akibat konflik Timur Tengah, serta kenaikan harga minyak dunia,” ujarnya di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026.

Pasar saat ini memperkirakan Fed Fund Rate bertahan di level 3,75 persen hingga akhir tahun. Proyeksi tersebut membuat investor kembali memburu dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain faktor global, sentimen domestik juga memengaruhi pergerakan rupiah. Investor masih mencermati arus modal asing, kondisi pasar keuangan nasional, hingga sorotan MSCI terkait transparansi dan struktur pasar modal Indonesia.

Kekhawatiran terhadap kapasitas fiskal pemerintah serta meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri korporasi pada periode April–Mei turut memperbesar tekanan terhadap rupiah.

Menurut Tiffani, pelemahan rupiah berpotensi memicu imported inflation atau inflasi impor. Kondisi itu dapat meningkatkan biaya impor bahan baku, energi, dan barang konsumsi yang berdampak pada kenaikan harga domestik.

Pemerintah Tertekan

Tekanan juga bisa pemerintah rasakan melalui membengkaknya subsidi energi dan pembayaran utang berbasis valuta asing.

Di sisi lain, pelemahan rupiah memberi keuntungan terbatas bagi sektor ekspor. Hal itu karena meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.

Tiffani menilai Bank Indonesia masih memiliki ruang menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi pasar valas. Kemudian penguatan instrumen moneter, serta pengendalian permintaan dolar AS di dalam negeri.

“Selama ketidakpastian geopolitik dan arah suku bunga AS belum berubah, volatilitas rupiah perkiraannya masih tinggi dalam jangka pendek,” katanya.

Sejalan dengan pelemahan di pasar spot, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga turun ke level Rp17.514 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.415 per dolar AS.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI