Jakarta (Lampost.co) — Praktik baru sedang muncul di kalangan investor kaya. Banyak pemilik emas batangan kini memilih menyewakan emas mereka untuk mendapatkan imbal hasil tambahan. Cara itu berbeda jauh dari kebiasaan lama yang hanya menyimpan emas di brankas tanpa menghasilkan pendapatan.
Lonjakan harga emas dunia ikut mendorong popularitas tren itu. Emas yang dulu sebagai aset pasif kini berubah menjadi instrumen yang menghasilkan pendapatan rutin.
Pendiri SafeGold, Gaurav Mathur, mengungkapkan lonjakan minat investor. “Kami menerima banyak permintaan dari pemilik emas batangan hingga jutaan dolar. Mereka bertanya, bisakah Anda menyewakan emas itu untuk saya?,” kata Mathur, pada Selasa (18/11/2025).
Ia menyampaikan volume sewa di platformnya melonjak drastis dari 2 juta dolar AS menjadi 40 juta dolar AS sejak awal tahun. Kenaikan tersebut menunjukkan minat besar investor untuk memanfaatkan emas sebagai aset produktif.
Investor menyewakan emas kepada penyuling, toko perhiasan, dan perusahaan industri yang memerlukan emas untuk kebutuhan produksi. Mereka menerima imbal hasil dalam bentuk emas, bukan uang tunai.
SafeGold menawarkan imbalan sekitar 2% untuk sewa berjaminan dan 4% untuk sewa tanpa jaminan. Awal tahun imbal hasil itu mencapai 3–5%.
CEO Monetary Metals, Keith Weiner, menjelaskan tren itu berkembang seiring investor ingin emas mereka tetap bekerja meski harga tidak selalu naik. “Mereka ingin emas menghasilkan sesuatu, bukan hanya tersimpan menunggu harga naik,” ujarnya.
Salah satu penyewa, Joseph dari Amerika Serikat, mengaku menambah jumlah emas yang ia sewakan. Sebab, imbal hasilnya mencapai 3,8% per tahun. “Saya yakin mata uang akan terus terdepresiasi,” katanya.
Ia juga menilai bank sentral terus menimbun emas dalam jumlah besar sehingga emas tetap menjadi instrumen yang stabil. Sewa emas memiliki mekanisme seperti pinjaman. Investor menyerahkan emas ke platform.
Lalu platform menyalurkannya kepada pelaku industri. Peminjam membayar “bunga” dalam bentuk emas dan mengembalikan jumlah yang sama pada akhir periode. Sistem itu membuat peminjam tidak terkena risiko fluktuasi harga.
Mengatasi 2 Masalah Industri
CEO Kilo Capital, Wade Brennan, menilai model itu mengatasi dua masalah utama industri, yaitu kebutuhan pendanaan dan risiko harga. Jika pelaku usaha membeli emas dengan pinjaman bank, mereka harus melakukan lindung nilai.
Namun, proses itu rumit dan tidak semua pelaku usaha menguasainya. Sementara, kenaikan harga emas lebih dari 50% tahun ini ikut mendorong kebutuhan modal di rantai pasokan.
CEO Goldstrom, Patrick Tuohy, menyebut permintaan sewa emas dari pelaku perhiasan meningkat lebih dari dua kali lipat dalam empat bulan terakhir. Menurutnya, pinjaman bank senilai 100.000 dolar kini hanya mampu membeli emas lebih sedikit sehingga pelaku usaha mencari alternatif pembiayaan.
John Reade dari World Gold Council mengingatkan sewa emas memiliki risiko rekanan. Ada kemungkinan peminjam gagal mengembalikan emas atau mengembalikan emas tidak autentik. Ia meminta investor memeriksa kelayakan peminjam dengan cermat.
SafeGold menguji keaslian emas yang kembali untuk mengurangi risiko. Monetary Metals menambah perlindungan dengan audit, asuransi, dan teknologi RFID.
Goldstrom bahkan menanamkan chip RFID pada setiap perhiasannya dari emas sewaan untuk memastikan inventaris selalu terpantau. “Kami mengubah toko perhiasan menjadi brankas,” ujar Tuohy.
Ia menambahkan perusahaan memiliki mekanisme penyitaan jika terjadi gagal bayar. Perhiasan akan melebur untuk mengambil kembali emas murni. Tuohy menyebut model ini berjalan sejak 2006 tanpa kasus gagal bayar.
Tren sewa emas bisa terus berkembang seiring meningkatnya harga emas global dan kebutuhan pembiayaan industri. Instrumen itu menjadi cara baru bagi investor mengoptimalkan aset yang selama ini hanya disimpan.








