Jakarta (Lampost.co)— Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan mengumumkan kebijakan tarif keras yang berpotensi mengguncang perdagangan global.
Trump menetapkan tarif sebesar 25 persen terhadap negara mana pun yang tetap menjalin hubungan bisnis dengan Republik Islam Iran. Sebuah langkah yang secara langsung menyasar mitra dagang utama Teheran.
Dalam pernyataan resminya di platform Truth Social, Trump menegaskan kebijakan tersebut berlaku segera dan tanpa pengecualian. Negara yang tetap berbisnis dengan Iran akan di kenakan tarif tambahan untuk seluruh transaksi dagang mereka dengan Amerika Serikat.
Baca juga: Amerika Serikat Jadi Tujuan Ekspor Terbesar Lampung Hingga November 2025
“Negara mana pun yang berbisnis dengan Republik Islam Iran akan membayar tarif 25 persen untuk semua bisnis yang melakukan dengan Amerika Serikat. Perintah ini final dan mengikat,” tulis Trump, Selasa (13/1/2026), sebagaimana mengutip AFP.
Langkah ini menilai sebagai bentuk eskalasi tekanan ekonomi maksimal terhadap Iran, di tengah meningkatnya ketegangan akibat gelombang protes besar-besaran anti-pemerintah di negara tersebut. Sejumlah organisasi hak asasi manusia melaporkan meningkatnya korban jiwa akibat penindakan aparat keamanan terhadap para demonstran.
Dampak Global dan Target Utama
Berdasarkan data ekonomi Trading Economics, China, Turki, Uni Emirat Arab, dan Irak tercatat sebagai mitra dagang utama Iran. Kebijakan tarif Trump berpotensi memaksa negara-negara tersebut memilih antara mempertahankan hubungan ekonomi dengan Teheran atau menghindari sanksi perdagangan dari Washington.
Analis menilai kebijakan ini bukan sekadar sanksi ekonomi, melainkan instrumen tekanan politik dan diplomatik untuk mengisolasi Iran secara internasional.
Opsi Militer Masih Terbuka
Di sisi lain, Gedung Putih tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa serangan udara termasuk dalam daftar opsi yang sedang dipertimbangkan pemerintah AS.
“Serangan udara adalah salah satu dari banyak opsi yang tersedia,” ujar Leavitt.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Iran disebut masih menjalin komunikasi dengan utusan khusus Trump. Steve Witkoff, dan menunjukkan sikap yang lebih moderat dalam komunikasi tertutup dibandingkan pernyataan publiknya.
Peringatan Keras dari Teheran
Sebelumnya, Trump secara terbuka memperingatkan pemerintah Iran agar tidak menggunakan kekerasan terhadap para demonstran. Namun, pernyataan tersebut mendapat balasan keras oleh Teheran. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa militer Amerika Serikat dan Israel akan menjadi “sasaran yang sah” jika Washington benar-benar melancarkan serangan.
Pernyataan saling ancam ini mempertegas meningkatnya risiko konflik terbuka, dengan kebijakan tarif terbaru Trump menilai sebagai langkah awal menuju konfrontasi yang lebih luas, baik di ranah ekonomi maupun militer.








