MEMBANGUN optimisme merupakan jawaban atas berbagai persoalan dalam menghadapi pandemi covid-19, terutama menghadapi lonjakan kasus baru yang terjadi belakangan ini.
Optimisme tersebut perlu diwujudkan dalam tindakan nyata melalui kesadaran untuk hidup dalam kondisi kenormalan baru. Demikian benang merah dari diskusi bertajuk Optimisme di Tengah Ketidakpastian, yang diselenggarakan oleh Forum Diskusi Denpasar 12, di Jakarta, Rabu (14/7).
Diskusi mingguan yang digelar setiap Rabu itu, menghadirkan empat narasumber, yakni Tim Pakar Satgas Covid-19 Prof Hingky Hindra Irawan Satari, Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia Prof Komaruddin Hidayat, Founder Personal Growth Ratih Ibrahim, dan Epidemiolog Universitas Airlangga Windhu Purnomo.
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat saat menyampaikan kata pengantar, mengakui bahwa membangun optimisme dalam keadaan yang penuh dengan ketidakpastian tentu tidak mudah. Oleh karena itu, perlu pemahaman dan kesadaran yang mendalam dalam menghadapi kompleksitas persoalan pandemi yang sedang terjadi.
“Sangat manusiawi bila terjadi kelelahan, ketidaknyamanan, bahkan kebingungan-kebingungan di kalangan masyarakat yang bisa berujung pada kemarahan. Tetapi kita harus berupaya untuk bisa mengendalikan kemarahan itu,” tegas politikus Partai NasDem yang akrab disapa Rerie itu.
Kemarahan, imbuhnya, bisa terjadi karena situasi, bisa juga karena anggapan-anggapan bahwa ada tindakan yang seharusnya sudah dilaksanakan tetapi belum dilaksanakan, serta berbagai persoalan lain. Termasuk persoalan kesehatan fisik dan psikis masyarakat. “Karena secara jujur harus kita akui, kita berhadapan pada suatu situasi yang tidak bisa kita kendalikan sama sekali,” ujar anggota Komisi X DPR RI.
Hingky Hindra Irawan Satari, antara lain menyoroti soal pentingnya data untuk menyokong langkah-langkah penanggulangan pandemi covid-19. Sebab, kelengkapan data akan sangat menentukan arah kebijakan dan hasil yang dicapai dalam menghadapi wabah virus korona di Tanah Air.
“Oleh karena itu, sangat berbahaya bila orang berbicara panjang lebar tentang pandemi tanpa didukung data yang lengkap dan valid,” tegasnya.
Selain itu, kata dia, seluruh elemen bangsa ini harus melihat pandemi sebagai masalah bersama, bukan masalah pemerintah. “Pandangan keliru semacam itu masih banyak menghantui masyarakat. Ini berbahaya, karena virus terus bermutasi, tapi rakyat tidak bermutasi.” (IKZ/S1)







