• LAMPOST.CO
  • LAMPUNG POST UPDATE
  • SAI 100FM
  • SUMA.ID
Selasa, April 28, 2026
Berlangganan
Konfirmasi
  • LAPORAN UTAMA
  • EKONOMI
  • KOTA
  • RUWA JURAI
  • PENDIDIKAN
  • RAGAM
  • OPINI
  • FOKUS
  • E-PAPER
  • INDEKS
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • LAPORAN UTAMA
  • EKONOMI
  • KOTA
  • RUWA JURAI
  • PENDIDIKAN
  • RAGAM
  • OPINI
  • FOKUS
  • E-PAPER
  • INDEKS
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Berlangganan
  • Konten Premium
  • E-Paper
  • Indeks
  • Log in
Beranda Baca Gratis

Vaksin Sinovac Tidak Berbahaya

Wandi Barboy Editor Wandi Barboy
11 Januari 2021
di dalam Baca Gratis, Berita Utama, Headline 1, Nasional
A A
Share on FacebookShare on Twitter

UMAR ROBANI

JURU bicara vaksin covid-19 PT Biofarma, Bambang Herianto, menegaskan vaksin Sinovac yang terpakai di Indonesia tidak mengandung bahan berbahaya. Vaksin tersebut juga tak mengandung bahan pengawet.

“Produksi Vaksin covid-19 dari Sinovac ini tidak menggunakan pengawet, dan tidak mengandung bahan-bahan lain, seperti boraks, formalin, ataupun merkuri,” kata Bambang dalam konferensi televideo, Minggu, 3 Januari 2021.

BACA JUGA

Menjaga Alam Lewat Penataan Tambang di Lampung

KPK Bongkar Korupsi Terstruktur di Lampung Tengah: Fee Proyek, Jejaring Keluarga, hingga Biaya Kampanye

Babak Lanjutan Kasus PT LEB: Saat Mantan Gubernur Hadir, Penyidikan Mencari Titik Terang

Mengulik Kredit Fiktif Bank Himbara Rugikan Negara Rp2,5 Miliar

Menurut Bambang, ada empat kandungan dalam vaksin Sinovac. Pertama virus yang sudah mati atau in-activated.

“Tidak mengandung sama sekali virus hidup atau menjadi lemah. Ini termasuk cara yang umum dalam membuatkan vaksin,” ujar dia.

Kandungan kedua ialah alumunium hidroksida. Senyawa kimia ini berfungsi meningkatkan kemampuan vaksin.

Kandungan ketiga, yakni larutan fosfat atau sebagai penstabil (stabilizer). Terakhir, larutan garam natrium klorida, atau garam dapur NaCl.

“Kandungan ini sebagai isotonis untuk memberikan kenyamanan dan penyuntikan. Tapi tentunya garam natrium klorida ini adalah yang memenuhi standar farmasetikal,” ujar Bambang.

Ia juga menegaskan adalah pesan hoaks yang menyebutkan vaksin Sinovac mengandung sel vero dari jaringan kera hijau Afrika.

“Karena sel vero hanya sebagai media kultur untuk media kembang dan tumbuh virus. Kemudian untuk proses perbanyakan virus serta sebagai bahan baku vaksin,” kata Bambang.

Menurut dia, media kultur berfungsi untuk mempertahankan virus agar tak mati. Jika tak ada media kultur, pembuatan vaksin menjadi sulit.

Vaksinasi covid-19 akan berlangsung secara bertahap di 34 provinsi. Proses ini dari Januari 2021 hingga Maret 2022. Periode pertama berlangsung dari Januari hingga April 2021. Tahapan ini untuk 1,3 juta tenaga kesehatan dan 17,4 juta petugas publik.

Periode kedua berlangsung selama 11 bulan. Pada periode yang menjangkau masyarakat ini pada April 2021 hingga Maret 2022.

Efikasi Minimal

Peneliti pandemi di Griffith University Australia, Dicky Budiman, menyebut vaksin Sinovac mesti memiliki efikasi (kemampuan mencegah penyakit) minimal 60-70 persen. Angka tersebut untuk membentuk herd immunity terhadap covid-19 dalam standar wilayah di Indonesia.

“Harapan saya Sinovac ini punya efikasi minimal 60 persen,” kata Dicky kepada Medcom.id, beberapa waktu lalu.

Dia menuturkan ambang batas efikasi vaksin minimal 50 persen sesuai ketetapan Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO). Dicky mengatakan semakin tinggi efikasi vaksin semakin efektif mencapai herd immunity.

“Sekali lagi bukan enggak bisa terpakai kalau 50 persen, bisa terpakai (tetapi) harus dengan matang vaksinasinya,” ujar Dicky.

Pria yang pernah terlibat dalam penelitian wabah SARS hingga flu burung ini menjelaskan untuk mencapai herd immunity harus dengan perhitungan cermat lewat tiga rumus. Mulai dari angka efikasi vaksin, reproduksi virus dalam satu wilayah, dan cakupan penerima vaksin.

Artinya, pemberian vaksin tidak sembarangan dan mesti melalui kajian rumit. Herd immunity tidak akan tercapai bila tidak melalui kajian tiga rumus itu.

“Secara ideal angka efikasi dari vaksin yang tinggi, angka reproduksi yang rendah, (serta) presentase cakupan yang tinggi, itu akan menghasilkan herd immunity yang efektif,” ujar dia.

Mantan Dewan Pengawas BPJS Kesehatan ini mengatakan pemberian vaksin juga tidak bisa langsung secara nasional. Pemberian vaksin perlu fokus pada satu wilayah.

Cakupan wilayah tidak mesti memperhatikan daerah yang paling parah terjadi penyebaran virus. Tetapi, memperhatikan ketiga rumus tadi.

“Kalau efikasi ada di 50 persen (maka) targetnya harus matang pada level daerah kabupaten, kota, dan provinsi. Jadi enggak langsung berpikir nasional, enggak bisa dalam situasi saat ini. Selain kita harus punya prioritas, prioritas bukan bahwa daerah itu paling parah tapi juga melihat kesiapan tadi rumus tadi,” jelas Dicky.

Klaim WHO

Pada bagian lain, klaim WHO menyebut vaksin Sinovac paling lemah adalah salah. Faktanya, berdasarkan keterangan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan WHO tidak ada dokumen resmi seperti yang membandingkan efektivitas dan efikasi vaksin.

Berdasar keterangan dari medcom.id(Grup Lampung Post), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan WHO tidak memiliki dokumen resmi seperti yang membandingkan efektivitas dan efikasi vaksin seperti pemberitaan tersebut. “Hal ini juga sudah kami konfirmasikan kepada pihak WHO di Indonesia,” kata juru bicara vaksinasi covid-19 BPOM Lucia Rizka Andalusia dalam keterangan virtual, Minggu, 20 Desember 2020. BPOM menyatakan tingkat efikasi vaksin Sinovac baik. Pihak produsen hingga badan pengawas obat di negara tempat uji klinis menyampaikan ihwal tersebut.

Dia juga menyatakan informasi yang menyatakan Indonesia satu-satunya negara pemesan vaksin Sinovac tidak tepat. Sejumlah negara memesan vaksin covid-19 dari Sinovac, seperti Brasil, Turki, Chile, Singapura, dan Filipina. Mesir juga sedang bernegosiasi untuk bisa memproduksi vaksin Sinovac.

“Pemerintah telah menegaskan komitmennya untuk memastikan bahwa vaksinasi hanya dilakukan dengan vaksin yang aman, efektif, dan bermutu secepatnya,” tegas dia.

Selain itu, sebelumnya ada informasi perbandingan vaksin covid-19 setelah Al Jazeera melansir artikel yang memuat tabel tentang perkembangan uji klinis berbagai vaksin Covid-19.

Tabel secara detail membandingkan 10 vaksin COVID-19, antara lain dari AstraZeneca-Oxford, CanSino, Gamaleya Research Institute, INOVIO, Johnson & Johnson, Moderna, Pfizer-BioNTech, Sinopharm, dan Sinovac.

Disebutkan vaksin Covid-19 yang paling tinggi menimbulkan respons imun adalah dari Pfizer dengan angka mencapai 95 persen. Kemudian yang paling lemah adalah Sinovac tanpa dicantumkan angka, hanya keterangan “low”.

Tidak dijelaskan darimana sumber data tabel. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang jelas sampai saat ini belum pernah memberikan keterangan atau rekomendasi vaksin COVID-19 yang bisa terpakai di seluruh dunia. (MEDCOM.ID)

 

umar@lampungpost.co.id
Tags: tidak berbahayavaksin sinovac
berbagiTweetMengirim
Posting Sebelumnya

Pray for Sriwijaya Air SJ-182

Posting berikutnya

Tiga Keluarga Korban Jatuhnya Pesawat di Tubaba Dapat Pendampingan

Wandi Barboy

Wandi Barboy

Posting berikutnya
PMI Tubaba memberikan pendampingan kepada keluarga korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 di Tubaba, Senin, 11 Januari 2021. LAMPUNG POST/MERWAN

Tiga Keluarga Korban Jatuhnya Pesawat di Tubaba Dapat Pendampingan

Ilustrasi:Istockphoto.com

BPOM Keluarkan Izin Pemakaian Darurat Vaksin

Ilustrasi:Istockphoto.com

Jokowi Setujui Perpanjangan Masa Pelarangan WNA

Ilustrasi: Pixabay.com

Merawat Ekosistem Wanatani

Ilustrasi:Pixabay.com

Kian Terpuruk, Trump pun Ngaku Kalah!

BERITA TERBARU

  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Selasa, 28 April 2026 28 April 2026
  • Menanti Islamabad Talks Jilid 2: Harapan Damai Iran-AS 27 April 2026
  • Perilaku Pro-Lingkungan: Antara Kesadaran, Tren, dan Tanggung Jawab Moral 27 April 2026
  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Senin, 27 April 2026 27 April 2026
  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Jum’at, 24 April 2026 24 April 2026

TOP NEWS

Benang Merah Konflik Manusia dengan Satwa

23 Ribu Peserta Gagal Masuk SMA/SMK Negeri

Tembus Rp12,42 Miliar Ekonomi Syariah kian Kokoh

Jalur SPMB SMP Prioritaskan Jarak

Perencanaan Keuangan Kunci Kemapanan Finansial

Perkuat Akses Keuangan Inklusif

Kebingungan Peserta Warnai Hari Pertama SPMB

Buka Ekspor Sawit di Pasar Eropa

Perketat Pengawasan Truk ODOL

Kreatif Hadapi Efisiensi Anggaran

POPULAR POST

  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Kamis, 23 April 2026

    0 shares
    berbagi 0 Tweet 0
  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Rabu, 22 April 2026

    0 shares
    berbagi 0 Tweet 0
  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Senin, 27 April 2026

    0 shares
    berbagi 0 Tweet 0
  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Jum’at, 24 April 2026

    0 shares
    berbagi 0 Tweet 0
  • Koran Digital Lampung Post, Edisi Selasa, 28 April 2026

    0 shares
    berbagi 0 Tweet 0
Facebook Twitter Youtube RSS Instagram

Tentang Kami

Lampost.co adalah laman berita resmi Harian Umum Lampung Post. Laman ini berada dalam naungan PT Masa Kini Mandiri, penerbit Koran Lampung Post yang menyajikan informasi berkualitas untuk melengkapi kehadiran koran edisi cetak di masyarakat.

Alamat Kami

PT Masa Kini Mandiri, Jl. Soekarno – Hatta No. 108, Hajimena, Lampung Selatan

Phone : (0721) 783-693
Fax : (0721) 783-578
Email : redaksi@lampungpost.co.id

Redaksi
Tentang Kami

Iklan & Sirkulasi

Sri Agustina : 0895-3463-91035
Ja’far Shodiq : 0812-1811-4344
Dat S Ginting 0822-6991-0113
Setiaji B. Pamungkas : 0813-6630-4630

Copyright © 2026. Lampost.co - Media Group, All Right Reserved.

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • LAPORAN UTAMA
  • EKONOMI
  • KOTA
  • RUWA JURAI
  • PENDIDIKAN
  • RAGAM
  • OPINI
  • FOKUS
  • E-PAPER
  • INDEKS

Copyright © 2026. Lampost.co - Media Group, All Right Reserved.

Open chat
1
Anda butuh bantuan ?
Admin Lampungpost.id
Halo, ada yang bisa kami bantu ?