DIAN WAHYU KUSUMA
NILAI ekspor Provinsi Lampung pada Juli 2020 mencapai 276,85 juta dolar AS. Angka ini menunjukkan adanya peningkatan 55,79 juta dolar atau naik 25,24 persen dibanding ekspor Juni 2020 yang tercatat 221,06 juta dolar. Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung mencatat nilai ekspor Juli 2020, jika dibandingkan dengan Juli 2019 yang tercatat 218,70 juta dolar, ada peningkatan 58,15 juta dolar atau naik 26,59%.
BPS Lampung mencatat sepuluh golongan barang utama ekspor Provinsi Lampung pada Juli 2020, meliputi lemak dan minyak hewan/nabati; kopi, teh, rempah-rempah; olahan dari buah-buahan/sayuran; batu bara; bubur kayu/pulp; karet dan barang dari karet; ampas/sisa industri makanan; daging dan ikan olahan; ikan dan udang; serta berbagai produk kimia. Kenaikan ini seperti yang disampaikan oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo bahwa di tengah pandemi ekspor buah mengalami peningkatan.
“Nanas, kami ekspor negara utama ke Amerika Seriakat, Belanda, Spanyol, Jerman, dan Jepang nilainya itu Rp1,5 triliun,” ujar Syahrul saat agenda Peluncuran Gelar Buah Nusantara ke-5, Senin (10/8/2020).
Selanjutnya, manggis di ekspor ke Hong Kong, Tiongkok, Malaysia, Arab Saudi, dan Prancis. “Nilainya Rp1,09 triliun,” ujar dia.
Sementara transaksi perdagangan luar negeri untuk pisang mencapai Rp45 miliar tahun ini.
Menteri menuturkan buah-buahan di Indonesia nyatanya tidak kalah dengan produk luar. “Bahkan, mereka rindu dengan buah tropis dan buah tropis paling bagus adalah dari Indonesia,” ujarnya.
Syahrul menambahkan pada triwulan III Kementan akan berkonsentrasi pada buah, sayur, dan kembang. Sebab, dari dampak Covid-19 ini sayur dan buah yang banyak mengandung vitamin C sangat diminati. Oleh karena itu, kemampuan buah Indonesia akan memberi kekuatan ketersediaan untuk warga.
Di Indonesia ada produsen buah segar dengan merek Sunpride yang telah diekspor ke 61 negara. Pencapaian ini menjadikan PT Sewu Segar Nusantara adalah 7 dari 10 besar perusahaan ritel di dunia.
“Masyarakat harus bangga karena produk dari GGF mampu bersaing dengan produk mancanegara,” ujar Head of Product Management and Marketing PT Sewu Segar Nusantara, Luthfiany Azwawie.
Tidak jarang banyak yang mengira buah Sunpride adalah buah impor. Padahal buah-buah ini seratus persen buah Nusantara.
“Kami tanam sendiri di Lampung. Kami kemas dengan baik, dirawat dengan baik, kami jaga kesegarannya sampai ke tangan konsumen,” kata Luthfiany.
Produk Lokal yang Aman dikonsumsi
Kebutuhan akan buah yang meningkat di masa pandemi ini sesuai dengan pesan Kepala Dinas Kesehatan Lampung, Reihana, yang mengatakan selama pandemi masyarakat harus terus menjaga imunitas, di antaranya tidur minimal tujuh jam sehari. Lalu, perbanyak makanan yang mengandung protein, perbanyak mengonsumsi sayuran dan buah, serta mengurangi konsumsi gula.
Lalu, buah seperti apa yang baik untuk dikonsumsi? Kenapa kemudian masyarakat dianjurkan memilih buah yang bersertifikat (global Good Agricultural Practice/GAP)?
Sertifikat GAP merupakan sertifikasi proses agrokultur dunia yang memastikan keamanan produk buah segar untuk dikonsumsi karena bebas dari residu kimia, patogen, dan kontaminasi fisik lain. Hal ini sangat menjamin keamanan pangan berupa higienitas, traceable, ecofriendly, babas residu, serta expert quality.
PT Great Giant Pineapple merupakan satu-satunya pemegang sertifikat GAP di Indonesia untuk buah pisang cavendish, nanas honi, dan jambu kristal dengan merek Sunpride. Tidak heran jika merek ini bisa menembus pasar Jepang yang sangat ketat.
Untuk mendapatkan sertifikasi GAP bukanlah perkara mudah. Perkebunan PT Great Giant Pineapple diaudit secara ketat setiap tahunnya terhadap enam hal penting, mulai dari pembibitan alami (non-GMO), keamanan pangan, kebersihan dalam proses produksi, kesejahteraan pekerja, pelestarian lingkungan, hingga hasil buah yang dapat ditelusuri (traceable).
Nol Limbah
Peneliti pertanian Universitas Lampung, Sri Waluyo, menuturkan kelanjutan dari sistem GAP itu adalah praktik pertanian sesuai kaidah. Penggunaan pupuk yang sesuai menghindari bahan berbahaya serta memperhatikan aspek lingkungan. Lalu, dari aspek manusia, kompetensi, keahlian, dan sisi kesehatan juga tidak kalah penting. “Artinya menggunakan pestisida, jangan sampai orang malah terkena dampak pestisidanya,” ujar dia, Kamis (3/9).
Standarnya perusahaan harus menggunakan bibit unggul. Kemudian, pupuk yang tepat tidak berlebihan, menghindari pupuk kimia yang mencemari lingkungan, dan menggunakan air secukupnya atau tidak berlebihan. Sementara hasil limbah produksi bisa dimanfaatkan kembali.
“Air limbah bisa dimanfaatkan lagi, ini konsepnya zero waste. Jadi tidak bisa disebut lagi limbah, tetapi disebutnya hasil samping,” ujar Waluyo.
Ia menilai saat ini ada teknologi untuk mengelola limbah. Oleh sebab itu, limbah bisa menjadi produk samping karena ada nilai ekonomi. “Dari sisi ekonomi sudah mengurangi dampaknya,” kata dia.
Hal itu diperkuat dengan apa yang dikatakan Luthfiany bahwa GGF telah menerapkan sustainable integrated farming model sehingga tidak ada limbah yang terbuang di perkebunan. “Kami berkomitmen dalam pengelolaan tanpa limbah untuk melindungi lingkungan, air limbah diolah menjadi biogas untuk dikembalikan menjadi energi,” ujarnya.






