FEBI HERUMANIKA
BERBAGAI langkah dilakukan pemerintah untuk mencegah bayi mengalami gizi buruk atau stunting. Puskesmas Brantiraya di kecamatan Natar, Lampung Selatan menggelar lomba pembuatan makanan untuk bayi dan ibu hamil di masing-masing desa.
Kepala unit pelaksana teknis (UPT) Puskesmas Brantiraya Rosa Resnida mengatakan tim penilaian makanan yang dia bentuk langsung melihat hasil kerja keras dari kader posyandu tersebut.
“Untuk menekan kasus stunting di desa harus banyak ide yang dikeluarkan salah satunya mengelar lomba membuat makanan untuk ibu hamil dan balita,” kata dia di Puskesmas Brantiraya, Jalan Pasar Branti No. 99, Brantiraya, Natar, Lamsel, Rabu (2/3).
Menurut dia, kader posyandu yang ikut serta dalam lomba membuat makanan tersebut diharapkan bisa memberikan penjelasan kepada warga tentang tata cara membuat makanan bergizi untuk ibu hamil dan balita tersebut.
“Sebetulnya lomba serentak secara bersama dilakukan 6 desa, tetapi karena lagi masa pandemi jadi kami datang ke desa-desa melakukan penilaian,” ujar Rosa.
“Untuk menekan kasus stunting di desa harus banyak ide yang dikeluarkan salah satunya mengelar lomba membuat makanan untuk ibu hamil dan balita,”
Pihaknya berharap kasus stunting bisa menurun jika makanan dari ibu hamil gizinya terpenuhi.
Menurutnya penanganan bayi gizi buruk harus dilakukan sedini mungkin mulai dari dalam kandungan hingga balita. Penanganan pun harus dilakukan secara bersama dan kompak untuk itu perlu mengajak satu sama lain lebih peduli.
“Kami dari puskesmas memberikan hadiah untuk desa yang terpilih sebagai desa pemenang pembuatan makanan kreatif untuk menuntaskan kasus stunting di desa,” katanya.
Rosa menyebutkan hingga akhir 2021 tercatat ada 19 bayi stunting di wilayah kerjanya. Untuk itu pihaknya terus berupaya menekan agar hal ini tidak ada lagi.
Ide Makanan
Warga desa Haduyang, Erna mengatakan kegiatan yang dijalankan tim kesehatan puskesmas ini sangat baik karena dengan langkah seperti itu masyarakat diajak bekerja sama-sama menuntaskan persoalan gizi kronis pada bayi.
“Jadi kita dituntut untuk menciptakan ide makanan untuk ibu hamil dan balita hamil kira-kira dilihat apakah bagus atau tidak jika ada yang kurang maka akan diajarkan nantinya,” ujarnya. (D2)
febi@lampungpost.co.id






