Jakarta (lampost.co)–Ambisi Indonesia untuk melahirkan generasi emas pada tahun 2045 kini terganjal kenyataan rendahnya kualitas asupan protein masyarakat. Angka konsumsi susu nasional justru masih jalan di tempat. Tertinggal jauh di belakang negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap fakta konsumsi susu masyarakat Indonesia baru mencapai 16,3 kilogram per kapita per tahun. Angka tersebut sangat kecil ketimbang standar kesehatan ideal. Kondisi itu menjadi ancaman serius bagi upaya pemerintah dalam menekan angka stunting.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyebut 60 persen anak Indonesia tidak mampu membeli susu dan kurang memiliki akses terhadap makan bergizi seimbang. “Sebanyak 60 persen anak Indonesia itu tidak mampu beli susu. Mereka tidak minum susu karena memang orang tuanya tidak mampu beli susu, ini adalah satu kenyataan yang ada,” katanya, beberapa waktu lalu.
Meskipun pemerintah telah meluncurkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), tantangan besar muncul pada ketersediaan logistik yang merata. Rendahnya konsumsi susu bukan hanya karena masalah daya beli, melainkan juga akibat sulitnya akses mendapatkan susu berkualitas di wilayah kepulauan dan terpencil. Tantangan geografis ini semakin parah oleh keterbatasan infrastruktur rantai dingin, sehingga penyaluran produk susu segar sering rusak sebelum sampai ke konsumen.
Gerakan Nasional
Menurutnya, peningkatan konsumsi susu harus menjadi gerakan nasional dengan dukungan jaminan keamanan produk secara luas. Jika masalah penyaluran tidak segera teratasi melalui inovasi pengemasan, maka target pemerintah untuk mencetak generasi ber-IQ tinggi dan sehat secara fisik hanya akan menjadi wacana di atas kertas. Dengan demikian, kedaulatan gizi harus mulai dengan memastikan setiap liter susu tetap bernutrisi tinggi meskipun harus melewati perjalanan lintas pulau yang panjang.
Pada akhirnya, keberhasilan Program MBG akan sangat bergantung pada seberapa adaptif sistem distribusi yang dibangun. Melalui penggunaan teknologi aseptik, hambatan logistik bukan lagi menjadi alasan bagi rendahnya konsumsi susu, sehingga setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh secara optimal menuju Indonesia Emas. (MI)








