Bandar Lampung (Lampost.co) — Gerakan literasi di Lampung terus gencar melalui kolaborasi berbagai pihak dari pemerintah daerah hingga komunitas. Salah satu penggeraknya adalah peran bunda literasi yang aktif mendorong minat baca sejak tingkat keluarga hingga masyarakat luas.
Bunda Literasi Lampung, Purnama Wulan Sari Mirza, menegaskan komitmen Pemprov untuk mengoptimalkan peran bunda literasi di setiap kabupaten/kota agar Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Lampung meningkat.
“Literasi adalah jendela dunia dan kami berkomitmen untuk memastikan jendela itu terbuka lebar bagi seluruh masyarakat Lampung,” ujarnya.
Menurutnya, literasi yang kuat akan membentuk masyarakat yang kreatif dan inovatif. Ia pun mengajak seluruh elemen, mulai dari keluarga hingga komunitas literasi, bersama-sama menggaungkan semangat membaca di semua lapisan.
“Saya harap peningkatan literasi mendapatkan dukungan masyarakat juga mulai dari peran keluarga dan komunitas. Itu sangat penting,” tegasnya.
Kepala Perpustakaan Nasional RI, E. Aminudin Aziz, menambahkan Lampung masih memiliki pekerjaan besar di bidang literasi. Berdasarkan data terbaru, IPLM Lampung tercatat 64,81, di bawah rata-rata nasional 73,75.
Begitu pula Indeks Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) yang berada di angka 67,67, lebih rendah dari angka nasional 72,44.
Ia memaparkan, riset menunjukkan masyarakat Indonesia rata-rata hanya membaca 5,91 buku per tahun atau sekitar setengah buku setiap bulan. Waktu untuk membaca pun hanya 129 jam per tahun.
“Mengurus persoalan literasi bukan hanya tanggung jawab Dinas Perpustakaan atau Pendidikan, tetapi lintas sektor,” ujarnya.
Aminudin menekankan perlunya langkah nyata dan terukur dari seluruh pihak pemerintah daerah, pemangku kepentingan, hingga masyarakat. Hal itu untuk menciptakan budaya baca yang berkelanjutan. “Harus ada upaya, tidak boleh hanya sekadar wacana, tetapi benar-benar terimplementasikan,” katanya.








