Kotaagung (Lampost.co) – Suasana belajar di SDN 1 Lengkukai, Kecamatan Kelumbayan Barat, Tanggamus, biasanya dipenuhi tawa ceria anak-anak. Namun pada awal pekan kedua Agustus 2025, suasana berubah setelah beredarnya video berdurasi sekitar satu menit yang menyita perhatian publik.
Video tersebut memperlihatkan siswa laki-laki berseragam putih-merah duduk menunduk di dalam kelas. Beberapa guru berdiri di sekelilingnya, melontarkan pertanyaan dengan nada tinggi dan tekanan emosional.
“Kamu enggak ngaku? Emang ada setan? Orang-orang sudah lihat kamu yang ambil…,” terdengar suara dalam video itu.
Tak berhenti di situ, terdengar pula kalimat lain:
“Berarti habis ini enggak usah sekolah lagi, langsung kemasin bajunya… Ini dikirim ke mama kamu, ya…”
Bagi orang dewasa, mungkin itu sebagai teguran keras. Namun, bagi bocah kecil, kata-kata tersebut menimbulkan keresahan dan ketakutan, hingga luka batin yang terus membekas.
Guru Sengaja Merekam
Belakangan, guru perempuan bernama Dian, mengaku sebagai wali kelas sang anak yang merekam video tersebut. Dalam klarifikasinya, Dian menyampaikan permintaan maaf dan mengaku awalnya hanya ingin mengirim rekaman itu kepada ibu sang anak yang bekerja di luar negeri.
“Suara yang ada di video adalah suara saya. Saya membuat video ini tanpa paksaan. Awalnya hanya ingin mengirimkan kepada ibunya,” ujar Dian.
Di era media sosial, batas antara ranah pribadi dan publik sangat tipis. Rekaman itu menyebar luas tanpa kendali, memicu protes dari banyak kalangan atas kekerasan verbal terhadap anak oleh guru.
Dinas Belum Memberi Pernyataan
Sejak video beredar, warganet mengecam metode “interogasi” tersebut, menilai tindakan itu sebagai bentuk kekerasan verbal yang tidak layak oleh guru. Terlebih di lingkungan sekolah, tempat yang seharusnya aman dan mendukung perkembangan anak.
Lampung Post berupaya menemui Kabid Dikdas Dinas Pendidikan Kabupaten Tanggamus pada Kamis pagi hingga siang, 14 Agustus 2025. Namun hingga berita ini tersiar pada pukul 13.00 WIB, pihak Dinas belum memberikan keterangan resmi. Kabid Dikdas menolak berkomentar dan memilih meninggalkan lokasi.
Di SDN 1 Lengkukai, bel sekolah akan terus berbunyi, anak-anak akan kembali bermain. Namun, bagi bocah yang terekam dalam video tersebut, pengalaman ini mungkin menjadi pengingat pahit bahwa kata-kata—sekali terucap—tidak bisa ditarik kembali. (Rusdi Senapal)








