Bandar Lampung (Lampost.co) — Manuskrip kuno Poerba Ratoe resmi ditetapkan sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON) 2025 setelah melalui proses kajian panjang. Naskah ini sebagai bukti tertulis keteraturan sosial dan sistem adat masyarakat Lampung pada awal abad ke-20.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Lampung, Fitrianita Damhuri, mengungkapkan bahwa naskah tersebut tertulis oleh tokoh adat Lampung bernama Poerba Ratoe. Ia lahir di Labuhan Ratu Induk dan pernah menjabat sebagai ketua adat Kampung Labuhan Ratu, Kepala Kampung Labuhan Ratu, hingga Kepala Distrik XIII pada 1910. Poerba Ratoe wafat pada 1938.
Aksara Had
Naskah ini tertulis menggunakan aksara Had Lampung dan bahasa Lampung Pepadun di atas kertas Eropa. Proses penulisannya berlangsung pada 1907 hingga 1915, menghasilkan 108 halaman yang memuat 61 pokok bahasan terkait sejarah, praktik administrasi, hukum adat, hingga sistem pemerintahan masyarakat Lampung.
“Ahli waris, Arief Sofyan, menyimpan naskah Poerba Ratoe di Lampung Timur,” ujar Fitrianita, Senin, 20 Oktober 2025.
Kepala Bidang Deposit, Akuisisi, dan Pengelolaan Bahan Pustaka Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Lampung, Yanti Hakim, menambahkan bahwa naskah ini sangat penting karena sebagian pasal adat di dalamnya masih diterapkan hingga saat ini, terutama dalam Acara Adat Gawi yang menjadi tradisi turun-temurun masyarakat Lampung Pepadun.
“Menariknya, pasal-pasal adat dalam naskah Poerba Ratoe tidak berhenti sebagai arsip. Masyarakat Labuhan Ratu masih menggunakannya sebagai pedoman adat hingga kini,” jelasnya.
Selain memuat aturan adat, naskah ini juga mencatat aktivitas kemaritiman masyarakat Lampung. Salah satu bagian membahas perintah berlayar melalui sungai yang saat itu menjadi jalur utama transportasi. Kini, jejak nilai itu tetap hidup dalam ritual adat seperti Prosesi Turun Mandi yang menjadi bagian dari rangkaian Gawi.
Pengakuan IKON 2025 terhadap manuskrip Poerba Ratoe memperkuat upaya pelestarian warisan literasi Lampung sekaligus membuka ruang edukasi bagi generasi muda mengenai akar peradaban daerahnya.








