Bandar Lampung (Lampost.co) — Umat Hindu di Provinsi Lampung bersepakat untuk senantiasa menjaga toleransi dan harmonisasi antarumat beragama. Terutama ketika Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948, Kamis, 19 Maret 2026 beririsan dengan Bulan Suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 M.
Ketika Hari Raya Nyepi, umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian (amati geni, karya, lelungan) selama 24 jam untuk refleksi diri. Kemudian biasanya melakukan rangkaian tradisi meliputi Melasti (penyucian ke sumber air), tawur kesanga, dan pawai ogoh-ogoh.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Lampung, I Nyoman Setiawan mengatakan, perayaan Hari Raya Nyepi tahun ini menjadi momen yang istimewa karena beririsan dengan Hari Raya Idul Fitri.
Baca Juga:
Wanita Hindu Lampung Dukung MBG Entaskan Stunting
“Menghadapi kondisi tersebut, umat Hindu di Lampung telah melakukan berbagai penyesuaian. Guna menjaga keharmonisan dan kenyamanan bersama,” katanya kepada Lampost.co, Selasa, 17 Maret 2026.
Salah satu langkahnya adalah pelaksanaan ritual Melasti yang biasanya terlaksanakan secara besar tingkat provinsi. Tahun ini, kegiatan tersebut hanya terlaksanakan secara terbatas tingkat desa atau kabupaten.
Hal ini untuk menghindari keramaian besar yang dikhawatirkan dapat mengganggu umat muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa.
Selain itu, festival ogoh-ogoh juga mereka selenggarakan secara sederhana tanpa melibatkan massa dalam jumlah besar.
Perayaan tersebut mereka laksanakan secara parsial di masing-masing desa dan tidak digelar dalam skala provinsi. “Rencana penyelenggaraan yang lebih besar akan kita pertimbangkan kembali pada tahun mendatang,” katanya.
Malam Takbiran
Kemudian pihaknya juga melakukan koordinasi dengan seluruh pengurus PHDI kabupaten/kota serta lembaga adat Hindu tingkat desa. Salah satu poin penting yang mereka sepakati adalah terkait kemungkinan bertepatan antara malam takbiran dan Hari Raya Nyepi.
Selanjutnya umat Hindu menegaskan bahwa pelaksanaan takbiran tidak menjadi masalah. Hal ini karena umat Hindu menjalankan Nyepi dengan berdiam diri di rumah. Sementara takbiran dilakukan di jalan raya dan tidak memasuki lingkungan rumah warga.
Secara makna, Hari Raya Nyepi merupakan momentum untuk melakukan perenungan dan pengendalian diri melalui pelaksanaan Catur Brata Penyepian.
Umat Hindu diajarkan untuk menahan hawa nafsu dan lebih fokus pada kontemplasi diri. Sehingga aktivitas di luar rumah tidak menjadi hambatan dalam menjalankan ibadah.
Kesepakatan ini telah tersosialisasikan hingga ke tingkat desa dan bisa berjalan dengan baik di Lampung. Masyarakat setempat telah terbiasa hidup berdampingan dalam keberagaman. Sehingga kedua perayaan keagamaan dapat berlangsung secara bersamaan tanpa saling mengganggu.
“Dengan semangat toleransi tersebut, umat Hindu dapat menjalankan Nyepi dengan khusyuk. Sementara umat Muslim tetap dapat merayakan malam takbiran dengan penuh suka cita. Kedua perayaan pun harapannya berjalan lancar tanpa hambatan,” tutupnya.








