Jakarta (Lampost.co)— Pemerintah memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan selama bulan suci Ramadan 2026.
Meski demikian, terdapat penyesuaian pada mekanisme penyaluran serta jenis menu yang memberikan kepada para penerima manfaat, khususnya bagi siswa yang menjalankan ibadah puasa.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengungkapkan, hingga akhir Januari 2026 jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di seluruh Indonesia telah mencapai 22.091 unit. Keberadaan dapur tersebut menopang layanan MBG bagi lebih dari 60 juta penerima manfaat.
Baca juga: Program Makan Bergizi Gratis Tetap Jalan Selama Ramadan
“Jumlah penerima manfaat sudah menembus 60 juta orang, meski masih ada sedikit penyesuaian data di lapangan,” kata Zulhas.
Penerima MBG
Zulhas menjelaskan, cakupan penerima MBG untuk kelompok anak sekolah secara umum sudah sangat tinggi. Di sekolah-sekolah yang telah memiliki SPPG, tingkat keterjangkauan program rata-rata mencapai lebih dari 90 persen. Bahkan mendekati 100 persen di sejumlah daerah.
“Untuk siswa sekolah, datanya dari Dikdasmen relatif merata. Rata-rata sudah 90 sampai 95 persen, bahkan ada yang hampir seluruh siswanya menerima manfaat,” ujarnya.
Namun, ia mengakui cakupan MBG di lingkungan pesantren masih tergolong rendah. Berdasarkan data sementara, penerima manfaat dari pesantren baru berada di kisaran 20 persen. Perbedaan angka juga muncul antar instansi, sehingga perlukan sinkronisasi data.
“Terkait pesantren, data Kementerian Agama masih sekitar 20-an persen. Sementara dari data Badan Gizi Nasional sudah mendekati 70 persen. Ini yang akan kami cocokkan agar ke depan lebih akurat,” kata Zulhas.
Terkait pelaksanaan selama Ramadan, Zulhas menegaskan program MBG tidak berhent. Penyesuaian berlaku agar tetap selaras dengan aktivitas ibadah puasa masyarakat, terutama bagi anak sekolah.
Hal senada yang di sampaikan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana. Ia menegaskan pelayanan MBG bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui. Serta anak balita tetap berjalan normal tanpa perubahan jadwal.
“Untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, pelayanan tetap seperti biasa,” kata Dadan.
Konsumsi Saat Buka Puasa
Sementara itu, bagi anak sekolah di wilayah yang mayoritas siswanya menjalankan puasa, pembagian makanan berjalan pada siang hari saat pulang sekolah. Paket MBG tersebut membawa pulang untuk mengkonsumsi saat berbuka puasa.
Menu yang ter di persiapkan juga menyesuaikan dengan kebutuhan gizi sekaligus karakter makanan berbuka. “Contohnya kurma, telur rebus atau telur asin, telur pindang, buah-buahan, susu, dan abon,” jelas Dadan.
Adapun untuk sekolah di daerah yang mayoritas peserta didiknya tidak berpuasa, layanan MBG tetap memberikan seperti hari biasa. Khusus SPPG yang berada di lingkungan pesantren, pembagian MBG berlaku pada sore hari dengan menu makanan normal.
Pemerintah berharap penyesuaian ini dapat menjaga keberlangsungan pemenuhan gizi masyarakat selama Ramadan. Sekaligus memastikan program prioritas nasional tersebut tetap efektif dan tepat sasaran di seluruh wilayah Indonesia.







