Jakarta (lampost.co)– Keputusan pemerintah untuk tetap menggulirkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sepanjang Ramadan 2026 menjadi perbincangan hangat. Kebijakan itu memicu perdebatan mengenai efektivitas dan relevansi waktu pembagian makanan yang dianggap berbenturan dengan ibadah puasa.
Dokter medis sekaligus edukator kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI), Muhammad Fajri Adda’i, menilai kehadiran MBG selama Ramadan memiliki urgensi tinggi.MBG bukan sekadar urusan bagi-bagi makanan, melainkan menjadi medium edukasi agar anak-anak memahami komposisi nutrisi yang tepat selama puasa.
“Nutrisi yang stabil sangat kita butuhkan untuk menjaga konsentrasi belajar dan daya tahan tubuh. Oleh karena itu, asupan yang tepat akan mencegah anak-anak mengalami gula darah rendah atau hipoglikemia. Sehingga mereka tidak cepat lemas selama beraktivitas di sekolah,” ujar Fajri, baru-baru ini.
Fajri menyarankan agar pemberian paket MBG akan jauh lebih efektif jika untuk waktu sahur daripada saat berbuka puasa. Selain itu, ia menekankan peran guru dalam memberikan bimbingan mengenai pola makan sehat agar anak-anak tidak kalap mengonsumsi gorengan atau minuman tinggi gula saat magrib tiba. Dengan demikian, kebiasaan makan yang baik akan terbentuk meskipun di tengah perubahan jadwal makan.
Di sisi lain, kebijakan MBG di tahun 2026 ini juga membawa misi besar dalam mendongkrak ekonomi nasional melalui alokasi anggaran fantastis senilai Rp335 triliun. Anggaran raksasa ini tidak hanya berhenti di tingkat pusat, melainkan mengalir deras sebagai mesin penggerak perekonomian lokal di berbagai daerah.
Kebutuhan Tinggi
Salah satu dampak nyata terlihat di Kota Pekanbaru, di mana kemitraan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mulai merasakan lonjakan permintaan. Windra Pricindi Anatasia, seorang mitra SPPG di Kecamatan Bukit Raya, mengungkapkan bahwa tingginya kebutuhan bahan pangan memaksa mereka untuk melakukan ekspansi usaha.
“Kebutuhan dapur meningkat drastis, sehingga kami harus menambah tenaga kerja baru untuk menangani proses pengemasan hingga distribusi. Hal ini membuktikan bahwa MBG tidak hanya menyehatkan siswa, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan baru bagi warga sekitar,” jelas Windra.
Selanjutnya, integrasi antara pemenuhan gizi dan penguatan ekonomi ini diharapkan mampu menciptakan efek domino yang positif bagi kesejahteraan masyarakat. Oleh sebab itu, keberlanjutan program MBG saat Ramadan bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan langkah strategis untuk menjaga stabilitas fisik generasi muda sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi di tingkat akar rumput. (MI)








