Jakarta (lampost.co)–Praktik child grooming ancaman nyata yang sering luput dari pengawasan orang tua karena polanya yang sangat halus. Psikiater Lahargo Sportmono mengungkapkan bahwa fenomena ini merupakan taktik manipulatif orang dewasa untuk menciptakan ikatan emosional yang mendalam dengan anak atau remaja demi tujuan eksploitasi di masa depan.
Alih-alih terjadi secara mendadak, predator biasanya menjalankan aksinya dengan sangat rapi, perlahan, dan konsisten hingga korban terjerat dalam hubungan yang tidak sehat. Akibatnya, banyak korban yang tidak menyadari bahwa mereka sedang diarahkan ke dalam situasi berbahaya lantaran pelaku piawai menyamarkan maksud jahat di balik perhatian yang tampak tulus.
Waspadai tanda bahaya antara lain pemberian perhatian yang sangat intens serta bantuan rahasia yang sengaja menciptakan “utang budi” emosional. Selain itu, pelaku cenderung mengisolasi korban dari lingkungan pertemanan maupun keluarga agar kendali mereka semakin kuat. Oleh karena itu, pelaku sering kali memosisikan sebagai sosok mentor atau pelindung spesial demi membangun ilusi hubungan yang sah.
Berdasarkan tinjauan UNESA Science Education, kasus traumatis seperti pengalaman figur publik Aurelie Moeremans menunjukkan bahwa dampak dari grooming tidak akan hilang dalam waktu singkat. Korban sering kali memikul beban rasa bersalah yang berkepanjangan meskipun mereka adalah pihak yang rugi. Hal ini terjadi karena remaja perempuan umumnya sedang berada dalam fase pencarian jati diri. Sehingga mereka sangat rentan tergiur oleh validasi emosional palsu dari pelaku.
Peringatan Keras
Melalui narasi ini, para ahli memberikan peringatan keras kepada orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Orang tua sebaiknya waspada jika anak tiba-tiba menjadi sangat tertutup, bersikap defensif. Atau menjalin hubungan yang terlalu dekat dengan orang dewasa tertentu di luar pengawasan. Selanjutnya, penting untuk dipahami bahwa grooming bukanlah bentuk romansa beda usia, melainkan kekerasan yang dirancang secara sistematis melalui pola kontrol bertahap.
Penguatan komunikasi antara anak dan orang tua menjadi benteng utama dalam mencegah terjadinya eksploitasi ini. Dengan memahami pola manipulasi pelaku, masyarakat proaktif dalam memberikan perlindungan bagi generasi muda dari ancaman predator seksual berkedok perhatian. (MI)








