Bandar Lampung (Lampost.co) — Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga keterampilan memahami, mengolah, dan memanfaatkan informasi untuk menghadapi tantangan kehidupan. Upaya peningkatan literasi masyarakat membutuhkan sinergi kuat berbagai pihak.
Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Bandar Lampung, Yoga Pratama, mengatakan perluasan literasi ke masyarakat saat ini membutuhkan ide-ide kreatif. Hal itu agar program tersebut dapat masyarakat terima dengan baik dan memberikan output maksimal.
“Langkah untuk meningkatkan literasi dengan memberikan akses kepada bacaan. Kemudian butuh kreativitas dan inovasi agar masyarakat semangat meningkatkan literasinya. Misalnya, untuk anak-anak bisa mengkombinasikan dengan permainan tradisional, ini kan inovatif,” ujarnya, Senin, 11 Agustus 2025.
Yoga menjelaskan, Relima memiliki tugas mendorong budaya baca masyarakat. Hal itu melalui pendampingan taman bacaan, pelatihan pengelola, serta advokasi kepada pemerintah daerah.
Untuk itu, Relima bertugas untuk memastikan buku yang tersedia. Terutama bantuan dari Perpustakaan Nasional benar-benar masyarakat manfaatkan.
Kehadiran Relima diharapkan tidak hanya memperluas akses terhadap bahan bacaan. Namun, turut menguatkan kapasitas komunitas agar literasi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Selain itu, dukungan berkelanjutan akan mendorong pembentukan generasi yang lebih kritis, cerdas, dan berdaya. Namun dalam menjalankan tugas masih banyak persoalan yang mengganjal peningkatan literasi masyarakat Lampung.
“Akses terhadap bahan bacaan di masyarakat belum merata. Masyarakat kadang tidak memiliki sumber daya untuk membeli buku,” kata dia.
Dia berharap program bantuan buku dari Perpusnas bias menjadi bahan bacaan dan tersebar merata sehingga akses masyarakat terhadap buku menjadi mudah.
“Saat ini di Bandar Lampung sudah ada perpustakaan kelurahan di beberapa lokasi. Kami harap ini bisa masyarakat akses secara penuh,” tuturnya.
Sederet Hambatan Literasi
Di samping persoalan akses, sinergi antar kepala daerah hingga pemerintahan tingkat terkecil masih harus ada peningkatan. Fasilitasi terhadap pegiat literasi dan komunitas perlu bertambah.
Sehingga, komunitas dan pegiat literasi dapat memberikan dampak positif lain bagi masyarakat dan tidak sekadar mengejar indeks baca tulis.
“Persoalan yang juga menjadi tantangan adalah membuat masyarakat mau membaca melalui terobosan kreatif,” kata dia.








